Jumat, 15 Mei 2026

Dividen Mitratel (MTEL) Gede, Sahamnya Kuat Nanjak ke Rp 950?

Penulis : Zsazya Senorita
14 Apr 2023 | 22:12 WIB
BAGIKAN
RUPST PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel di Jakarta, Jumat (14/4/2023).
RUPST PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel di Jakarta, Jumat (14/4/2023).

JAKARTA, investor.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel akan membagikan dividen tunai sebesar 70% dan dividen spesial 29% dari laba bersih 2022 yang sebesar Rp 1,78 triliun. Dengan rasio 99% tersebut, maka total dividen mencapai Rp 1,76 triliun.

“Keputusan RUPST kami akan membagikan dividen sebesar 70% ditambah 29% spesial dividen, yang akan kami bagikan kepada seluruh pemegang saham. Mitratel sepanjang 2022 mencatatkan pertumbuhan kinerja finansial yang kuat dan berkelanjutan,” kata Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko dalam public expose tahunan di Jakarta, Jumat (14/4/2023).

Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tersebut berencana menyetor dividen paling lama satu bulan setelah RUPST atau sebelum 17 Mei 2023.

ADVERTISEMENT

Para investor diperkirakan bakal memperoleh total dividen sekitar Rp 21,1 per saham, yang terdiri atas dividen tahunan sekitar Rp 14,9 per saham dan dividen spesial Rp 6,19 per saham.

Tahun lalu, perseroan mencatat pendapatan Rp 7,73 triliun atau naik 12,51% dari Rp 6,87 triliun pada 2021. Laba bersih Mitratel melonjak 29,25% menjadi Rp 1,78 triliun dari Rp 1,38 triliun.

Pria yang akrab disapa Teddy itu mengatakan, pembagian dividen sebagai bentuk komitmen Mitratel untuk memberikan nilai terbaik kepada para pemegang saham.

“Untuk melanjutkan pertumbuhan kinerja positif tahun ini, perseroan menyusun strategi pengembangan ekosistem menara dengan terus menjaga pertumbuhan bisnis organik, ekspansi layanan pada ekosistem menara, dan menangkap peluang anorganik,” tutur Teddy.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama menjelaskan, rasio dividen yang besar didukung kondisi keuangan yang kuat. Keputusan ini juga dilatarbelakangi akuisisi 6.000 menara yang rampung lebih cepat yakni pada 2022. Padahal, rencananya diselesaikan dalam dua sampai tiga tahun sejak initial public offering (IPO) saham MTEL pada 2021.

“Sehingga dari sisi pendanaan, kami sudah mengamankan working capital karena dari arus kas saat ini sudah lebih dari cukup,” ujar Hendra.

Rencana bisnis emiten berkode saham MTEL tersebut menegaskan bahwa perseroan sebagai penyedia solusi infrastruktur digital (Digital InfraCo) terbesar yang independen. Sebab perseroan memiliki menara telekomunikasi terbanyak sebanyak 35.418 unit tower.

Menara-menara MTEL juga dilengkapi dengan layanan pendukung digital dalam ekosistem menara seperti Tower Fiberization, Power-as-a-service, dan infrastructure as a service untuk mendukung peningkatan layanan dari operator seluler.

Tahun ini, MTEL menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 7 triliun untuk menunjang rencana pengembangan usaha organik dan anorganik. Belanja modal diharapkan bisa meningkatkan performa kinerja perusahaan.

Prospek Saham

Research analyst PT BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis memproyeksikan pendapatan MTEL tahun ini tumbuh sekitar 11-12%. 

“Pasca IPO, MTEL semakin profesional dan independen. Selain Telkomsel, operator telekomunikasi lainnya, yakni XL, Indosat Hutchison, dan Smartfren melakukan kemitraan bisnis dengan MTEL. Kepercayaan konsumen semakin tinggi kepada MTEL, sehingga pendapatannya berpeluang tumbuh sekitar 11% hingga 12% pada 2023,” jelas Niko dalam keterangannya.

Kehadiran MTEL yang kuat yakni 58% aset menara terletak di luar Jawa, dibandingkan TOWR dan TBIG masing-masing 39% dan 41%, berpotensi membuat MTEL lebih menarik bagi operator telekomunikasi untuk memperluas jaringannya masing-masing.

Niko menyebutkan sejumlah faktor pendorong pertumbuhan bisnis MTEL, antara lain memperoleh pendapatan dari monetisasi aset yang berasal dari akuisisi tower dan fiber optic, serta penyewaan menara kolokasi di luar Pulau Jawa.

Niko mencermati alokasi belanja modal MTEL yang senilai Rp 7 triliun itu akan digunakan untuk membiayai rencana bisnis organik. Porsinya sebesar 60% dari jumlah total capex. Sisanya 40% untuk mendanai akuisisi menara telekomunikasi dan fiber optic.

”Kami memproyeksikan harga saham MTEL hingga akhir tahun 2023 di rentang Rp 930-950,” imbuh Niko.

Sementara itu, pada perdagangan Jumat (14/4/2023), saham MTEL ditutup pada harga Rp 695. Dengan begitu, potensi cuan dari saham MTEL cukup besar hingga 36,6%.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 18 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 20 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia