Bayan Resources (BYAN) Bagi Dividen Rp 11,7 Triliun
JAKARTA, investor.id - PT Bayan Resources Tbk (BYAN) akan membagikan dividen final sebesar US$ 800 juta atau setara Rp 11,77 triliun (kurs Rp 14.713 per dolar). Dengan demikian, investor diperkirakan mendapat dividen US$ 0,024 per saham.
Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) Bayan Resources telah menetapkan pembagian dividen tunai senilai total US$ 1,8 miliar atau Rp 26.483 triliun, setara 82,62% dari laba bersih tahun 2022 senilai US$ 2,17 miliar. Dari jumlah itu, sebesar US$ 1 miliar sudah dibagikan sebagai dividen interim.
Sesuai rencana, pembagian dividen dilaksanakan sekitar bulan depan atau paling lama 30 hari setelah penetapan, sesuai peraturan Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Total dividen yang akan dibagikan kepada investor untuk tahun buku 2022 sejumlah US$ 1,8 miliar. Sebesar US$ 1 miliar telah kami bagikan sebagai dividen interim pada Januari 2023 atau US$ 0,03 per saham,” ujar Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Bayan Resources (BYAN) Jenny Quantero dalam public expose Bayan di The Langham Hotels, Jakarta, Kamis (27/4/2023).
Tahun ini, perusahaan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 220-250 juta. Jumlah ini lebih tinggi dari realisasi capex 2022 senilai US$ 207,9 juta namun lebih rendah dibandingkan anggaran capex tahun lalu sebesar US$ 267,08 juta.
Namun menurut Direktur Bayan Resources (BYAN) Alastair McLeod nilai capex 2023 masih sama dengan kisaran tahun lalu. Dalam kesempatan yang sama, dia pun menjelaskan alasan penetapan anggaran belanja modal tahun ini.
“Jadi 2023 kami berencana menyelesaikan seluruh jalan Mahakam dan sebagian besar perluasan, benar-benar capex untuk rute itu. Walaupun ada yang turun ke paruh pertama 2024. Jadi kami menyelesaikan proyek capex utama di tahun 2023,” jelas Alastair.
Target lainnya sampai Desember 2023, perusahaan berencana memproduksi 42-48 juta metrik ton (MT) dengan volume penjualan yang sama seperti produksi. Jumlah itu diharapkan bisa terserap pasar dengan harga rata-rata (average selling price) US$ 80-90 per MT.
Sedangkan tahun lalu, Bayan berhasil menjual 39,9 juta MT batu bara dengan ASP US$ 117,9 per MT dari total produksi 38,9 juta MT sepanjang 2022. Batu bara tersebut, paling banyak terjual ke Filipina yang setara 30% total penjualan, disusul penjualan dalam negeri sekitar 25%. Sisanya diekspor ke Korea, India, Bangladesh, Malaysia, dan Tiongkok masing-masing 15%, 8%, 8%, 5%, dan 3%.
Target Kinerja
Tahun ini, Bayan Resources menargetkan volume produksi dan penjualan sebanyak 42-48 juta ton batu bara. Angka tersebut lebih besar dari realisasi tahun 2022 yang sebanyak 39,9 juta ton batu bara.
Bayan juga memperkirakan rasio pengupasan tanah meningkat menjadi 4-4,5 kali pada 2023 dibandingkan realisasi tahun lalu sekitar 3,9 kali.
Manajemen Bayan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan bahwa belanja modal tahun ini disiapkan sekitar US$ 220-250 juta. Proyek ini lebih besar dari realisasi belanja modal perseroan tahun lalu yang sebesar US$ 207,9 juta.
Sedangkan rata-rata harga jual batu bara emiten berkode saham BYAN ini diperkirakan berada dalam rentang US$ 80-90 per ton. BYAN menargetkan sekitar 30,5 juta ton batu bara tahun ini akan dijual dengan menggunakan harga mengambang dan sekitar 13,8 juta ton dengan menggunakan harga kontrak.
Terkait proyeksi harga jual tahun ini, menurut data Bayan Resources, lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2022 yang sebesar US$ 117,9 per ton dan lebih tinggi dari realisasi tahun 2021 sekitar US$ 70,7 per ton.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






