GOTO Semakin Dekat Capai Target Profitabilitas
JAKARTA, investor.id – Langkah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) untuk mencapai profitabilitas semakin dekat. Pasalnya, perusahaan teknologi ini mampu membukukan kinerja positif serta mampu menekan rugi secara signifikan di kuartal pertama tahun ini.
Emiten yang menaungi Gojek, Tokopedia, GoTo Financials (GTF) dan GoTo Logistics (GTL) berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan bruto sebesar 14% year-on-year (yoy) menjadi Rp 6 triliun. Pertumbuhan ini merupakan hasil strategi perusahaan untuk meningkatkan kesetiaan konsumen dengan memanfaatkan porto folio produk bernilai tambah (value-added products) dan layanan premium.
Sejalan dengan peningkatan induk usahanya, unit bisnis GOTO juga membukukan kenaikan pendapatan bruto selama kuartal I-2023. Bisnis on-demand services GOTO yang dioperasikan Gojek membukukan kenaikan pendapatan bruto sebesar 12% yoy menjadi Rp 2,99 triliun, sementara pendapatan bruto unit bisnis e-commerce yang dioperasikan Tokopedia juga naik 21% yoy menjadi Rp 2,26 triliun.
Bisnis financial technology yang dijalankan oleh GTF juga naik 25% yoy menjadi Rp 424 miliar. Unit bisnis terbaru GOTO, yaitu logistics yang dioperasikan GTL, juga tumbuh 12% yoy menjadi Rp 580 miliar di tiga bulan pertama tahun ini. Tak hanya mampu mencatatkan kenaikan pendapatan bruto, pendapatan bersih GOTO melesat hingga 123% yoy menjadi Rp 3,33 triliun.
EBITDA yang disesuaikan ekosistem digital terbesar di Indonesia ini juga tumbuh sebesar 67% yoy menjadi Rp-1,6 triliun. Jumlah ini setara dengan -1,1% sebagai persentase dari nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV).
Direktur Utama GOTO Andre Soelistyo menyatakan, perusahaan telah berada pada pertengahan jalan menuju target EBITDA yang disesuaikan positif pada kuartal keempat. “Fokus kami pada pelanggan setia yang profitabel serta kedisiplinan dalam pengelolaan beban telah meningkatkan efisiensi secara signifikan, sekaligus memberikan sekilas gambaran prospek GOTO di masa depan,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterbitkan Kamis (27/4/2023).
Andre juga mengatakan, perusahaan akan terus memabngun infrastruktur ekosistem yang semakin solid untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan menuju profitabilitas dalam jangka panjang.
Di tengah perbaikan kinerja, GOTO secara konsisten terus melakukan penghematan beban usaha. Beban operasional berulang (recurring cash opex) perusahaan turun hingga Rp 460 miliar atau 17% secara kuartalan. Beban insentif dan pemasaran produk pun turun signifikan sebesar 39% yoy atau setara dengan Rp 2,6 triliun.
Alhasil, GOTO pun berhasil mencatatkan margin kontribusi positif sebesar 0,4% dari GTV pada kuartal I-2023. Angka ini tumbuh pesat sebesar 224 basis poin (bps) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan mencapai Rp 636 miliar. Peningkatan pendapatan yang dibarengi dengan upaya penghematan ini turut membantu perusahaan menekan rugi bersihnya menjadi Rp 3,9 triliun, turun signifikan sebesar 41% dari Rp 6.61 triliun di kuartal I-2022.
Direktur Keuangan GOTO Jacky Lo mengatakan, pengelolaan beban operasional tetap secara cermat turut mendukung perusahaan dalam langkahnya mencapai profitabilitas. Hal ini juga mmapu mengurangi biaya operasional dan tingkat cash burn secara signifikan.
“Kami akan terus menjaga kedisiplinan dalam pengelolaan beban yang merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang kami. Dengan begitu, kami mampu menjaga basis biaya tetap rendah sehingga memberikan kami keleluasaan lebih besar untuk mengalokasikan modal demi percepatan pertumbuhan di masa depan,” ujarnya.
Ke depan, GOTO akan terus menjalankan strateginya untuk memprioritaskan pelanggan setia dan profitabel. Perusahaan pun akan melanjutkan upayanya untuk mengurangi beban dan mengambil langkah efisiensi secara menyeluruh. Strategi ini dipercaya akan terus mendorong profitabilitas yang berkelanjutan secara jangka panjang bersamaan dengan fokus GOTO untuk mempercepat pertumbuhannya di masa depan.
Kinerja Anak Usaha
Sejalan dengan kinerja positif induk usahanya, unit bisnis GOTO yang terdiri dari on-demand services, e-commerce, financial technology dan logistics juga mencatatkan kinerja yang solid selama Kuartal I-2023. Bisnis on-demand services yang dijalankan Gojek membukukan peningkatan EBITDA yang disesuaikan yang signifikan sebesar 85% yoy menjadi Rp -246 miliar atau setara -1.8% dari GTV unit bisnis ini.
Take rate unit bisnis ini pun naik 324 bps dibanding kuartal yang sama tahun lalu yang didorong oleh peningkatan monetisasi. Sementara itu, bisnis e-commerce yang dijalankan Tokopedia mencatatkan peningkatan EBITDA yang disesuaikan sebesar 75% yoy menjadi Rp -523 miliar atau setara dengan -0,8% dari GTV e-commerce.
Unit bisnis ini pun berhasil membukukan pertumbuhan take rate sebesar 72 bps yang mencapai 3,6% dari GTV berkat penjualan layanan iklan dinamis serta peningka tan monetisasi dari layanan nilai tambah di merchant app. Unit usaha financial technology GOTO juga turut mencetak kinerja positif pada Kuartal I-2023. EBITDA yang disesuaikan tumbuh 31% yoy, sementara rata-rata nilai transaksi per pelanggan GoPay meningkat lebih dari 30% yoy.
Ke depan, perusahaan memperkirakan produk consumer lending akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan utama. Di sisi lain, unit usaha logistics yang dijalankan GTL, anak usaha terbaru GOTO, membukukan pertumbuhan EBITDA yang disesuaikan sebesar 37% yoy. GTL pun berencana untuk mengembangkan pengantaran last mile dan terus mendorong efisiensi jangka panjang melalui peningkatan struktural bagi unit pengantaran dan fulfillment di masa depan.
Lanjutkan Upaya ESG
Tak hanya fokus mengejar profitabilitas, GOTO pun terus melanjutkan upayanya dalam transisi operasional yang diperlukan untuk memenuhi standar internasional dan industri terkait kinerja Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (ESG). Selama kuartal pertama tahun ini, GOTO pun melakukan beberapa upaya ESG, salah satunya termasuk uji coba purwarupa sepeda motor buatan Electrum di Jakarta.
Perusahaan juga meluncurkan kampanye pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya perwujudan Nol Sampah (Zero Waste) ke tempat pembuangan akhir (TPA). Upaya ESG perusahaan pun membuahkan hasil yang positif. Berdasarkan hasil riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), GOTO dinilai membantu menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.
Aktivitas di dalam ekosistem GOTO pun diperkirakan memberikan kontribusi hingga 2,2% terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia Organisasi pemeringkat dan benchmarking internasional terkemuka, World Benchmarking Alliance, juga menobatkan GOTO sebagai salah satu perusahaan teknologi terdepan untuk inklusi digital di seluruh pasar negara berkembang.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






