Jumat, 15 Mei 2026

Laba Tergerus, Emiten Sawit Masih Prospektif Loh!

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
8 Mei 2023 | 04:00 WIB
BAGIKAN
Bisnis sawit PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN). (Foto: Perseroan)
Bisnis sawit PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN). (Foto: Perseroan)

JAKARTA, investor.id - Pelemahan harga sawit turut menyeret penurunan kinerja emiten sawit pada kuartal I-2023. Alhasil, harga saham berbasis sawit pun ikut tergerus. Meski demikian, kalangan analis memproyeksikan prospek minyak sawit dan turunannya masih cerah.

Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily dari Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan kinerja paling dalam dialami emiten sawit milik grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Emiten yang melantai di BEI dengan sandi saham AALI ini membukukan laba bersih Rp 224,7 miliar pada kuartal I-2023, anjlok 53,5% dibandingkan periode sama tahun silam Rp 483,4 miliar.

Laporan keuangan perseron menunjukkan, koreksi laba bersih itu terjadi sejalan dengan turunnya pendapatan sebesar 27,6% menjadi Rp 4,76 triliun dibandingkan kuartal I-2022 yang sebesar Rp 6,58 triliun. Segmen minyak sawit dan produk turunan Astra Agro menyumbang Rp 4,35 triliun, diikuti inti sawit dan turunannya Rp 399,5 miliar, dan produk lainnya Rp 4,3 miliar.

ADVERTISEMENT

Pada periode yang sama, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) juga membukukan penurunan pendapatan sebesar 27,7% menjadi Rp 184,15 miliar dibanding periode sama tahun lalu.

Pendapatan penjualan berasal dari tandan buah segar (TBS) sebesar Rp 101,48 miliar, penjualan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebesar Rp 73,49 miliar, dan penjualan kernel Rp 9,18 miliar.

Dengan demikian, menurut data Cisadane Sawit, laba bersih perseroan pada kuartal I-2023 terjun bebas menjadi Rp 23,56 miliar, atau terpangkas 77,2% secara tahunan (year on year/yoy) dengan margin bersih 12,8%.

Selama kuartal I-2023, produksi TBS perseroan tercatat 67.750 ton, menurun 1,3% dari 68.644 ton. Bersamaan dengan itu, produksi CPO juga anjlok 15,6% menjadi 6.057 ton, sama halnya dengan produksi kernel yang menurun 14,6% menjadi 1.545 ton.

Menurut Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis Cisadane Sawit Raya, Seman Sendjaja, melemahnya harga jual rata-rata (average selling price/ASP) merupakan penyebab utama menurunnya kinerja bisnis perseroan pada kuartal I-2023 dibanding periode sama tahun lalu.

"Walaupun terjadi penurunan kinerja keuangan, biaya operasional yang ramping memungkinkan perseroan merespons lebih cepat perubahan eksternal,” ujar Seman Sendjaja di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hal serupa menimpa PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) yang mengalami penurunan laba bersih 31,9% secara kuartalan (quarter to quarter/qtq) dari Rp 314 miliar pada kuartal IV-2022 menjadi Rp 214 miliar pada kuartal I-2023. Begitu juga pendapatan, turun dari Rp 3,04 triliun menjadi Rp 2,06 triliun.

Laporan keuangan Dharma Satya Nusantara menyebutkan, peningkatan beban operasional membuat margin kotor perseroan turun dari 25,3% menjadi 28,1%. Hal ini memperparah penurunan laba bersih perseroan, sehingga realisasi kuartal I-2023 hanya merefleksikan 16% dari target tahun ini.

Ke Depan Membaik

Secara terpisah, analis Mirae Asset Sekuritas, Rizkia Darmawan mengungkapkan, secara teknis industri sawit di Indonesia pada awal 2023 masih terkendala curah hujan yang tinggi yang berujung pada menurunnya produksi. Namun ke depan, produksi diharapkan kembali membaik seiring dengan normalnya cuaca.

Industri sawit, kata Rizkia, juga dipengaruhi harga sawit yang tahun ini kemungkinan besar akan ternormalisasi. Soalnya, tekanan dari sisi pasokan minyak makan global akibat konflik Rusia dan Ukraina sudah membaik. "Di sisi lain, harga pupuk juga sudah ternormalisasi, sehingga biaya produksi tidak signifikan seperti sebelumnya," tutur dia.

Namun, menurut Rizkia Darmawan, pelemahan ini bukan pertanda bahwa industri minyak sawit akan terus melemah sepanjang tahun ini. Minyak sawit masih menjadi komoditas dengan permintaan tinggi di dunia. Apalagi pemerintah juga turut menggenjot penanaman kembali (replanting) sawit karena usia perkebunan sawit di Indonesia sudah cenderung tua.

"Jadi, pelaku usaha dan pemerintah harus secara bersamaan mengedepankan program ini," tandas dia.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 47 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 49 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia