Jumat, 15 Mei 2026

Wall Street Melemah di Tengah Ketidakpastian Negosiasi Plafon Utang

Penulis : Indah Handayani
20 Mei 2023 | 07:30 WIB
BAGIKAN
Wall Street
Sumber: Antara
Wall Street Sumber: Antara

NEW YORK, investor.id - Wall Street melemah pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Sempat dibuka menguat, namun langsung merosot setelah negosiasi plafon utang AS di Washington sempat terhenti. Hal itu merusak optimisme bahwa kesepakatan dapat dicapai dalam beberapa hari mendatang untuk menghindari gagal bayar.

Dikutip dari Antara, Dow Jones Industrial Average merosot 109,28 poin (0,33%) menjadi menetap di 33.426,63 poin. Sedangkan S&P 500 menyusut 6,07 poin (0,14%) menjadi berakhir di 4.191,98 poin. Sementara itu, Nasdaq tergelincir 30,94 poin (0,24 %) menjadi ditutup pada 12.657,90 poin.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan konsumer non-primer dan jasa-jasa komunikasi memimpin penurunan, masing-masing kehilangan 0,84% dan 0,49%. Sementara itu, sektor energi dan kesehatan memimpin penguatan dengan masing-masing naik 0,73% dan 0,46%.

Kepergian perwakilan Kongres dari Partai Republik dari meja negosiasi Jumat (19/5/2023) pagi menimbulkan keraguan atas kemajuan pembicaraan plafon utang untuk mencegah bencana gagal bayar AS.

ADVERTISEMENT

“Sisi Gedung Putih tidak masuk akal” kata Perwakilan Republik Garret Graves, sekutu utama Ketua DPR Kevin McCarthy, menambahkan bahwa negosiasi sedang dalam ‘jeda’.

Komentarnya muncul sehari setelah kata-kata optimis McCarthy tentang pemungutan suara DPR paling cepat minggu depan.

Ada banyak ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi sehubungan dengan pembicaraan plafon utang, dan pasar saham bisa turun drastis jika kesepakatan tidak tercapai sebelum tenggat waktu, menurut Peter Cohan, profesor praktik manajemen di Babson College, sekolah bisnis swasta di Massachusetts.

Kepada Xinhua pada Jumat (19/5/2023), Cohan mengatakan apa yang terjadi selama pembicaraan plafon utang pada tahun 2011 dapat terulang dan bisa menjadi lebih buruk meskipun apa yang terjadi pada tahun 2011 pada dasarnya adalah hal jangka pendek.

Statistik menunjukkan bahwa Indeks S&P 500 anjlok hampir 17% antara 22 Juli dan 8 Agustus selama kebuntuan plafon utang pada tahun 2011.

Karena Demokrat tidak akan mendukung pengurangan defisit untuk membayar pemotongan pajak yang mendorong kembali defisit dan Partai Republik tidak akan menyetujui apa pun yang membatasi pemotongan pajak, jadi sebenarnya tidak ada dasar untuk kesepakatan, kata David A. Super, seorang profesor hukum dan ekonomi di Georgetown University Law Center.

“Sangat mungkin untuk memiliki perpanjangan jangka pendek dari batas utang sekitar dua bulan dan negosiasi akan berlanjut untuk sebagian besar musim panas," kata Super kepada Xinhua.

Super menambahkan, pasar bisa sangat tidak tenang dalam jangka pendek dan situasi di pasar bisa lebih buruk daripada selama pembicaraan plafon utang pada tahun 2011.

Saham turun di tengah kemerosotan saham bank-bank regional dan dana yang diperdagangkan di bursa terkait setelah Menteri Keuangan Janet Yellen dilaporkan mengatakan kepada para CEO bank besar bahwa lebih banyak merger mungkin diperlukan. Yellen meningkatkan prospek bahwa lebih banyak bank regional mungkin harus dibeli oleh pemberi pinjaman besar.

Namun, kerugian Jumat (19/5/2023) mereda setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengindikasikan dia terbuka untuk jeda kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter bank sentral pada Juni.

Powell juga mengatakan bahwa tekanan perbankan dapat mempengaruhi pandangan Fed tentang kenaikan suku bunga, dengan pengetatan kredit cenderung memperlambat pertumbuhan ekonomi dan perekrutan.

Powell telah membuka jalan bagi The Fed untuk menghentikan kampanye kenaikan suku bunga pada pertemuan Juni, kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA, pemasok layanan perdagangan multi-aset daring.

"Namun The Fed dapat melanjutkan pengetatan karena Powell menegaskan kembali bahwa inflasi jauh di atas target Fed. The Fed tidak akan memiliki semua jawaban apakah inflasi akan terus turun hingga mencapai target untuk beberapa bulan lagi," kata Moya. .

Komite Pasar Terbuka Federal memiliki sekitar 82 % kemungkinan menghentikan kenaikan suku bunga dalam pertemuan kebijakan moneter mendatang pada Juni, menurut data dari CME FedWatch Tool pada Jumat (19/5/2023) sore.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia