Incar Penjualan Naik 10%, Ini Strategi Indonesian Tobacco (ITIC)
JAKARTA, investor.id - PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) mengincar pertumbuhan penjualan sebesar 10% pada 2023. Dalam mencapai pertumbuhan penjualan tersebut, perseroan menerapkan beberapa strategi. Selain meningkatkan laba, efisiensi operasional juga menjadi fokus perseroan.
Komisaris Utama Indonesian Tobacco (ITIC) Shirley Suwantinna mengatakan, pihaknya tidak merasa khawatir dengan ramainya tren rokok listrik di Indonesia, lantaran pasar tembakau Tanah Air masih besar. Adapun pasar tembakau Indonesia terbagi tiga segmen yakni menjadi sigaret kretek mesin, sigaret kretek tangan dan sigaret putih mesin.
“Rokok listrik itu menjadi gaya hidup yang tak mungkin terelakan, namun demikian setiap segmen sudah memiliki pasarnya masing-masing, kalau berbicara soal ekonomis tentu produk tembakau iris jauh lebih ekonomis” jelas dia dalam paparan publik, Selasa (23/5/23).
Shirley menambahkan, soal strategi selain pengembangan pasar yang sudah ada, perseroan juga akan melakukan efisiensi dari internal agar laba yang diperoleh pada akhir tahun 2023 ikut bertumbuh sejalan dengan penjualan. Karena itu, perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp 35 miliar yang akan digunakan untuk peremajaan mesin dan perbaikan infrastruktur area kerja dan sebagainya.
“Sumber capex berasal dari laba pada tahun 2022,” ujar dia.
Sepanjang tahun lalu, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 279 miliar atau meningkat 17,11% dibandingkan pendapatan perseroan di tahun 2021 sebesar Rp 238 miliar. Perseroan juga membukukan kenaikan EBITDA sebesar 8,74% atau meningkat Rp 4,5 miliar dengan catatan EBITDA Perseroan di tahun 2021 dibukukan sebesar Rp 50,5 miliar dan di tahun 2022 dibukukan sebesar Rp 54,9 miliar.
Di tahun yang sama, ITIC berhasil menekan utang sebesar 6,5% dengan perbandingan liabilitas perseroan di tahun 2021 adalah sebesar Rp 202 miliar dan di tahun 2022 turun sebesar Rp 188,9 miliar. Total aset meningkat 5%, dari tahun 2021 sebesar Rp 526,7 miliar menjadi Rp 553,2 miliar pada tahun 2022. Selain itu, ITIC membukukan kenaikan ekuitas sebesar 12,2% dari tahun 2021 sebesar Rp 324,7 miliar dan di tahun 2022, menjadi Rp 364,3 miliar.
Sedangkan hingga Maret 2023, perseroan membukukan peningkatan pendapatan sebesar 14,5% atau meningkat Rp 8,6 miliar menjadi Rp 68,1 miliar. Dengan demikian, laba bersih perseroan pada kuartal pertama 2023 meningkat 9,45% menjadi Rp 4,2 miliar.
Shirley mengatakan, kinerja positif ini sejalan dengan pertumbuhan penjualan di existing market dan upaya perseroan dalam melakukan perbaikan distribusi dan pemerataan area penjualan. Kemudian, diiringi dengan peningkatan perbaikan mutu produksi tembakau dan pengendalian proses kerja untuk mengendalikan biaya untuk peningkatan kualitas performa keuangan.
“Kinerja positif ini merupakan bentuk komitmen perseroan yang terus menjadi momentum untuk selalu kuat bertumbuh dan bertahan lebih kuat dimasa mendatang dan mampu melewati segala rintangan pasca pandemi,” kata dia.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler

