Harga Minyak Meredup, Tertekan Komentar Negatif Novak
JAKARTA, investor.id - Harga minyak terpantau meredup pada Jumat pagi (26/5/2023). Tertekan sentimen dari komentar bernada negatif dari Novak serta potensi meningkatnya tensi AS dengan Tiongkok. Meski demikian, perkembangan situasi di Iran dan isyarat penghentian kesepakatan ekspor via pelabuhan Laut Hitam Ukraina membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX mengatakan, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada Kamis mengatakan bahwa dia melihat tidak akan ada langkah baru yang dibuat OPEC+ pada pertemuan berikutnya pada awal Juni nanti, karena baru sebulan lalu diputuskan mengenai pemangkasan sukarela oleh beberapa negara anggota.
“Pernyataan Novak tersebut memberikan tekanan pada harga minyak karena memicu keraguan OPEC+ akan melakukan pemangkasan lebih lanjut pada pertemuan minggu depan,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (26/5/2023).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, AS kembali melakukan tindakan yang berpotensi memicu eskalasi tensi lebih lanjut dengan Tiongkok. Departemen Luar Negeri AS pada Kamis (26/5/2023) memperingatkan bahwa Tiongkok mampu meluncurkan serangan dunia maya terhadap infrastruktur penting.
Termasuk jaringan pipa minyak dan gas serta sistem kereta api, setelah para peneliti menemukan kelompok peretas Tiongkok telah memata-matai jaringan tersebut. Pemerintah Tiongkok menampik tuduhan AS tersebut serta menuding bahwa peringatan dari AS tersebut sebagai ‘collective disinformation campaign’.
Sementara itu, Iran pada hari Kamis mengatakan bahwa pihaknya telah berhasil meluncurkan rudal balistik dengan potensi jangkauan 2000 km, jarak yang mampu mencapai Israel dan AS. “Berita tersebut memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi mengancam keamanan regional dan internasional,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Tim Research and Development ICDX menyebut, sentimen positif lainnya datang dari ancaman Rusia yang pada hari Kamis mengisyaratkan jika permintaan untuk meningkatkan ekspor biji-bijian dan pupuknya tidak dipenuhi, maka kesepakatan ekspor dari tiga pelabuhan Laut Hitam Ukraina yang akan berakhir pada 17 Juli mendatang, kemungkinan tidak akan diperpanjang.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 74 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 70 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






