Eks Dirut Bursa Blak-blakan soal Bumi Minerals (BRMS), Ini Peluang dan Risikonya
JAKARTA, investor.id – Hasan Zein Mahmud, mantan dirut Bursa Efek Jakarta, mengulas soal potensi dari kinerja PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Ini tentu terdapat peluang dan risiko pada harga saham BRMS.
Hasan Zein, yang juga penulis buku berjudul Strategi Andal Investasi di Pasar Modal dan Acuan Meraup Cuan di Pasar Modal, menilai kinerja anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) – perusahaan yang dikendalikan Grup Bakrie dan Salim – itu masih prospektif.
“Mulai dari harga Rp 128, saya kembali mencomot BRMS, sesendok demi sesendok. Menambah jumlah lot dalam portofolio. Menurunkan average cost. Tapi, sekaligus menambah besar angka merah (unrealized loss) karena harga terus melorot,” tulis Hasan Zein yang kini aktif sebagai investor individu, dalam ulasannya, yang dikutip pada Minggu (28/5/2023).
Menurut dia, para traders mungkin resah gelisah. Bisa jadi sudah cut loss berkali kali, karena level support ditabrak roboh berkali kali. “Tapi, saya sebagai investor menikmati penurunan itu dengan senang hati. Saya cuma punya satu alasan melakukan cut loss, yaitu ketika saya kehilangan kepercayaan terhadap prospek perusahaan. Dan, saya tidak kehilangan kepercayaan terhadap prospek BRMS,” tuturnya.
Adapun titik fokus terhadap prospek saham Bumi Minerals tersebut adalah bottom line atau rugi/laba. Laba bersih yang diperoleh dari hasil operasional. “One off profit sih gurih juga. Tapi karena – ibarat makanan sedap yang – cuma dihidangkan sekali, tidak bisa diberi bobot untuk penerawangan jangka panjang,” sebut Hasan.
Misalnya pada 2021, BRMS mendapat keuntungan luar biasa, karena piutang yang sudah dihapus-bukukan ternyata dibayar kembali. Konon, tahun ini masih ada sisa piutang yang akan kembali diselesaikan. Jumlahnya dikabarkan jauh lebih kecil dari laba luar biasa tahun 2021, tapi tetap signifikan.
Namun, itu tak menarik perhatiannya. Hasan fokus pada penerawangan pendapatan operasional yang dikurangi biaya, yakni laba operasional. Sebab pendapatan operasional relatif lebih mudah diperkirakan, walau belum tentu mendekati.
Pertama, harga komoditas yang bisa dimonitor setiap saat. Kedua, kapasitas produksi terang benderang. Asumsi harga jual rata-rata (average selling price/ASP) emas yang digunakan manajemen BRMS sebesar US$ 1.700 per troy ons. Sebagai informasi, harga emas selama kuartal II-2023 hingga saat ini tidak pernah di bawah US$ 1.900. Bahkan sering bertengger di atas US$ 2.000.
Lalu, produksi. Manajemen BRMS yakin bahwa proyek-proyek perseroan akan berproduksi dengan kapasitas penuh mulai Juli 2023. Artinya, paling tidak produksi akan meningkat 4 kali lipat selama 2023. Jika kurang dari itu, kata Hasan, berarti manajemen bluffing.
Lebih lanjut dia mengatakan, biaya operasi memang lebih sulit diprediksi karena banyak dipengaruhi oleh kebijakan internal. Penyusutan tentu saja naik tajam. Begitu juga dengan biaya pokok produksi hingga biaya umum dan administrasi.
Namun, manajemen BRMS yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah bagi stakeholders, khususnya shareholders, diyakini punya patokan. Biaya dalam persentase tidak boleh naik melampaui kenaikan pendapatan.
“Kalau ini menjadi kenyataan, laba operasi BRMS 2023 akan naik lebih dari 4 kali lipat. Sabar dalam ibadah dijanjikan pahala tanpa batas. Sabar dalam investasi dijanjikan cuan tanpa batas,” ucapnya.
Sekarang soal risiko. Tapi, sebelum itu, dia menegaskan bahwa ini merupakan penerawangan pribadi soal prospek kinerja Bumi Minerals atau BRMS. Bukan ajakan, bukan pom-pom. “Saya bukan influencer urusan beli saham. Motif utamanya adalah diskusi edukasi,” jelas Hasan.
Dia melanjutkan, laba BRMS masih relatif sangat kecil. Laba per saham (earning per share/EPS) disetahunkan 2023 kurang dari Rp 1. “Fakta bahwa pembeli saham bersedia membeli dengan price to earning ratio (PER) 140 kali memang mahal. Tapi, itu fakta pasar. Dengan kapitalisasi lebih dari 40 kali pendapatan, pakai ukuran normal, mahal!” ungkap dia.
Hasan mengaku hanya mengulas tentang prospek laba BRMS 2023 yang berpeluang naik lebih dari 4 kali. Pada 2024, peluang revenue dan laba naik lagi 100% dari CIL 2 karena beroperasi dengan kapasitas penuh sepanjang tahun. Belum menghitung peluang dari CIL 3, tembaga Gorontalo, emas Kerta Banten, serta zinc & lead di Dairi.
“Apakah investor tetap mau beli mahal atau tidak? Apakah mereka tetap mau beli pada PER di atas 100 kali seperti saat ini? Saya tak mampu menerawang,” pungkasnya.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






