Plafon Utang AS Beres, IHSG Siap Rebound
JAKARTA, investor.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan siap rebound ke level 6.657-6.773 pada pekan ini, setelah terpangkas 0,2% pada pekan lalu. Hal ini dipicu tuntasnya masalah plafon utang Amerika Serikat (AS) serta membaiknya inflasi dan kinerja manufaktur Indonesia.
Analis Surya Fajar Sekuritas Raphon Prima mencermati, sentimen global dan domestik akan mendukung penguatan IHSG sepekan ini. Pasalnya, rilis data tenaga kerja non-farm payroll AS diprediksi menurun. Sebaliknya, rilis data inflasi dan manufaktur Indonesia diekspektasikan membaik.
“Jadi, masalah kenaikan plafon utang AS kemungkinan besar akan disetujui. Karena, hal itu pernah terjadi di masa Presiden Obama dan partai Republik dan Demokrat yang saat itu setuju untuk menaikkan plafon utang. Terlalu berisiko membiarkan government shutdown,” jelas Raphon kepada Investor Daily, Minggu (28/5/2023).
Sekalipun, kata Raphon, persetujuan kenaikan plafon utang AS baru akan tercapai pada menit-menit akhir. Sentimen lain yang memperkuat IHSG pekan ini adalah kecenderungan pelaku pasar yang sudah mengantisipasi resesi Jerman, sehingga resesi tersebut tidak lagi menjadi sesuatu yang mengerikan.
“Berbeda konteksnya bila yang resesi Tiongkok atau AS. Jadi pengaruh resesi ini tidak begitu signifikan,” tambahnya. Sejalan dengan proyeksi positif IHSG pekan ini, Raphon pun merekomendasikan untuk mencermati saham GGRM dengan target harga 3.2000 dan saham BBRI dengan target harga 6.000.
Dia melihat, potensi lonjakan laba bersih pada kuartal II-2023 akan menjadi katalis positif bagi GGRM dan prospek saham perbankan diperkirakan masih positif didukung oleh potensi pemangkasan suku bunga acuan.
Sama seperti Raphon, CEO Edvisor.id Praska Putrantyo juga memperkirakan IHSG pekan ini akan cenderung menguat di level 6.650-6.800 berkat rilis angka Personal Consumption Expenditures (PCE) price index yang lebih tinggi dari ekspektasi pada April 2023 setelah suku bunga acuan The Fed berpotensi meningkat Juni mendatang.
“Harapan tercapainya kesepakatan batas pagu utang AS untuk menghindari gagal bayar awal Juni nanti juga masih besar,” tutur Praska. Sentimen lain yang akan memperkokoh IHSG pekan ini adalah penantian pasar terhadap rilis data indeks manufaktur PMI Tiongkok yang kini mulai melambat, dan penantian atas rilis inflasi domestik.
Namun secara bersamaan, kepastian kesepakatan pagu utang pemerintah AS untuk menghindari gagal bayar pasca lembaga rating Fitch menurunkan outlook menjadi negatif atas rating AS level AAA juga menjadi sentimen yang perlu diwaspadai. Termasuk kondisi ekonomi Tiongkok yang kini mulai melambat, tercermin dari penurunan indeks manufaktur selama dua bulan terakhir.
Khusus untuk kinerja saham-saham perbankan, Praska melihat, secara umum masih akan tetap bertumbuh sekalipun laju pertumbuhan kredit tahunan secara nasional kembali melambat di bawah 10%, tepatnya 8,08% per April 2023 akibat kenaikan suku bunga acuan,
Kendati demikian, Praska meyakini, permintaan kredit konsumsi masih akan menjadi penopang kinerja bisnis emiten saham-saham perbankan sampai akhir tahun 2023 nanti. “Sejumlah saham bank yang masih menarik untuk dikoleksi antara lain BBTN dengan target harga 1.300, BDMN di 2.900, dan BRIS di 2.000,” tutup Praska.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






