Sektor Ini Bikin IHSG Babak Belur saat Bursa Lain Menghijau
Menurut Roger, pelemahan harga komoditas berpengaruh yang cukup signifikan, karena dapat memberikan tekanan pada neraca perdagangan. Belum lagi, penerimaan ekspor juga akan melorot, jika tren pelemahan ini terus berlanjut. Ini tetap berlaku, kendati impor turun, karena surplus perdagangan akan mengecil.
Selain itu, dia menambahkan, efek kenaikan suku bunga yang bisa memicu resesi ke depan memberikan tekanan ke saham-saham komoditas, termasuk batu bara. Kendati begitu, Roger masih berpandangan netral untuk sektor batubara.
Pasalnya, dia menuturkan, sektor energi, terutama batu bara masih akan mendapatkan katalis positif dari permintaan Tiongkok pada musim panas. Batu bara bisa memenuhi kebutuhan listrik untuk AC, seiring membaiknya aktivitas manufaktur.
Isu ESG
Pengamatan serupa juga disampaikan Direktur Ekuator Swarna Capital Hans Kwee. Lesunya perdagangan saham kemarin diakibatkan oleh menurunnya harga komoditas global, khususnya batu bara. Ditambah lagi, setoran pajak sektor pengolahan melambat yang sekaligus menjadi indikasi perlambatan sektor manufaktur.
“Dunia saat ini sangat pro-ESG, sehingga komoditas, khususnya batu bara tidak mendapatkan momentum kenaikan seperti tahun lalu ketika Eropa krisis energi dan Tiongkok memblok batu bara Australia,” jelas Hans.
Walaupun demikian, Hans memprediksi, dalam jangka pendek, IHSG akan kembali menguat. Hanya saja, dirinya menekankan, para pelaku pesar tetap harus berhati-hati lantaran The Fed berpotensi melanjutkan kenaikan suku bunga. “Personal consumption expenditure (PCE) juga kemarin agak tinggi,” tutup Hans.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






