Bank Neo (BBYB) Siap Melompat, Potensi Cuan Sahamnya Berlipat-lipat
JAKARTA, investor.id – PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) atau BNC diproyeksikan dapat membukukan pendapatan operasional sebelum pencadangan atau pre-provisioning operating profit (PPOP) sebesar Rp 1,9 triliun pada 2023, melonjak dibandingkan 2022 yang senilai Rp 288 miliar. Target ini akan didukung oleh top line yang kuat dan efisiensi biaya.
“Kami percaya pinjaman akan tumbuh 40% dan margin bunga bersih (NIM) dapat meningkat sebesar 300 bps pada tahun 2023, yang didorong oleh pinjaman digital dan channeling,” tulis analis UOB Kay Hian Sekuritas, Posmarito Pakpahan, dalam risetnya.
Penghematan biaya dalam subsidi transfer, pemasaran, dan promosi dapat menurunkan rasio biaya terhadap pendapatan (Cost to Income Ratio/CIR) Bank Neo Commerce menjadi 35% hingga akhir tahun ini dibandingkan posisi pada kuartal I-2023 sebesar 39%. Namun, penurunan aset akan membebani laba, sehingga UOB Kay Hian Sekuritas memangkas setengah dari perkiraan laba bersih Bank Neo Commerce.
Menurut Posmarito, margin bunga bersih (NIM) Bank Neo Commerce bakal terus meningkat masing-masing menjadi 13%, 14,5%, dan 15,4% pada tahun 2023, 2024, dan 2025. Hal itu didukung oleh imbal hasil yang lebih tinggi. “Kami memproyeksikan pinjaman tumbuh 40% pada tahun 2023, dengan pinjaman digital dan channeling diperkirakan akan berkontribusi 79% dari total pinjaman dan mendorong pendapatan,” sebut dia.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2023, suku bunga rata-rata tahunan untuk modal kerja, investasi, dan pinjaman konsumen pada emiten berkode saham BBYB tersebut mencapai 50,4% dibandingkan 2022 yang sebesar 46,4%, permintaan pinjaman sebesar 8,6% dibandingkan 2022 sebesar 9,6%, dan pinjaman karyawan sebesar 6,1% dari periode tahun lalu 6,4%.
“Kami mengharapkan imbal hasil pinjaman meningkat. Kami juga perkirakan biaya dana turun 10-20 bps,” ungkap Posmarito.
Pada pertengahan Mei 2023, BBYB menurunkan suku bunga produk simpanan digital sebesar 100 bps. Namun, 25-30% dari simpanan tersebut merupakan simpanan offline yang diyakini akan disesuaikan dengan suku bunga pasar. Pada kuartal I-2023, suku bunga deposito tahunan BBYB mencapai 7,2%.
Posmarito memperkirakan, BBYB dapat membukukan PPOP sebesar Rp 1,9 triliun pada tahun 2023, dengan kuartal I sudah meraih Rp 465 miliar, yang didukung oleh top line dan pemotongan biaya yang kuat. Pada kuartal I-2023, rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) BBYB turun secara signifikan menjadi 39,5% dari 86,8% pada tahun 2022 karena biaya operasional turun 57% yoy (-37% qoq) dan pendapatan operasional naik 155% yoy (+16% qoq).
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






