Jumat, 15 Mei 2026

Emiten Multifinance Untung Rp 1,4 Triliun, Siapa Terbesar?

Penulis : Prisma Ardianto
16 Jun 2023 | 20:54 WIB
BAGIKAN
BFI Finance. (Foto: Istimewa)
BFI Finance. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 14 emiten pembiayaan (multifinance) mencetak laba bersih senilai total Rp 1,4 triliun pada kuartal I-2023 atau rata-rata tumbuh 35,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari 14 emiten tersebut, hanya dua yang merugi.

Dua emiten yang mengalami penurunan laba hingga tercatat merugi dalam tiga bulan pertama pada tahun ini adalah PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) dan PT Pool Advista Finance Tbk (POOL). Sisanya masih mampu membukukan laba, meski tercatat dua entitas lainnya mengalami penurunan laba yakni PT Mandala Multifinance Tbk (MFIN) dan PT Mizuho Leasing Indonesia Tbk (VRNA).

Sementara itu, emiten yang mencatatkan pertumbuhan laba di antaranya PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), PT Buana Finance Tbk (BBLD), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Woori Finance Indonesia Tbk (BPFI), dan PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN).

ADVERTISEMENT

Kemudian, PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA), PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS), PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA), PT Trust Finance Indonesia Tbk (TRUS), dan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF).

Rata-rata pertumbuhan laba bersih sejumlah emiten yakni sebesar 35,14% pada kuartal I-2023 ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata peningkatan laba keseluruhan industri. Industri multifinance mencatat laba bersih sebesar Rp 5,23 triliun atau tumbuh 32,2%.

Perolehan laba emiten multifinance itu dipengaruhi setidaknya beberapa hal, yaitu pendapatan yang tumbuh seiring piutang pembiayaan yang terus tumbuh, serta pos beban yang cenderung lebih rendah dibandingkan rata-rata industri. Dari sisi pendapatan, 14 emiten multifinance mengantongi Rp 7,08 triliun atau meningkat 14,55% (year on year) pada kuartal I-2023.

Perolehan itu mengikuti piutang pembiayaan yang bergerak agresif yakni melesat 23,17% (yoy) menjadi Rp 89,56 triliun. Pertumbuhan itu bahkan jauh di atas rata-rata industri multifinance sebesar 16,35% (yoy) yang mencapai Rp 435,53 triliun.

Emiten multifinance juga berhasil mengelola biaya yang lebih rendah dibandingkan cakupan industri. Beban emiten multifinance meningkat 10,79% (yoy) menjadi Rp 4,89 triliun, relatif lebih rendah dari peningkatan rata-rata industri yakni sebesar 15,84% (yoy) menjadi Rp 22,36 triliun pada kuartal I-2023.

Jika dibedah lebih lanjut, setidaknya ada empat perusahaan yang berkontribusi besar terhadap perolehan laba bersih 14 emiten multifinance tersebut. Pertama, BFI Finance (BFIN) dengan laba bersih mencapai Rp 508,82 miliar atau tumbuh 28,5% (yoy).

Perolehan tersebut didukung oleh total pendapatan BFI Finance yang sebesar Rp 1,64 triliun atau naik 38,99% (yoy) pada kuartal I-2023. Sementara, beban meningkat 46,76% (yoy) menjadi Rp 1,02 triliun. Tingginya pertumbuhan beban tersebut tidak terlepas penyaluran pembiayaan yang cukup ekspansif dalam setahun belakangan ini. 

Per Maret, piutang pembiayaan BFI Finance tumbuh 40,7% (yoy) menjadi Rp 21,57 triliun atau menjadi salah satu pertumbuhan tercepat di antara emiten multifinance lainnya. Direktur Keuangan BFI Finance Sudjono meyakini kinerja positif ini akan berlanjut hingga akhir tahun.

"BFI Finance terus melanjutkan tren positif pada tahun ini. Kami optimis dapat melanjutkan tren ini dengan tetap menjaga kualitas aset yang baik dan pencadangan yang memadai, sambil melanjutkan proses transformasi bisnis dan mitigasi risiko melalui tata kelola yang baik," jelas Sudjono melalui keterangannya, baru-baru ini.

Berikutnya, Adira Finance (ADMF) yang berhasil membukukan laba bersih Rp 417,04 miliar atau tumbuh 36,93 (yoy) pada kuartal I-2023. Perolehan ini didukung keberhasilan perusahaan menekan beban-beban menjadi sebesar Rp 1,7 triliun atau naik tipis 0,70% (yoy).

Di pos pendapatan, Adira Finance meraup Rp 2,23 triliun atau meningkat 7,27% (yoy). Hasil tersebut pun tidak menyurutkan peningkatan skala bisnis perusahaan, dimana piutang pembiayaan neto tercatat tumbuh 23,93 (yoy) menjadi Rp 24,82 triliun. Adapun semua lini bisnis tercatat tumbuh, mulai dari pembiayaan mobil, motor, barang durable, baik konvensional maupun berbasis syariah.

Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani Mendrofa masih enggan membeberkan target laba perusahaan tahun ini. Meski begitu, sejumlah inisiatif telah disiapkan untuk terus memacu bisnis tetap tumbuh baik hingga akhir tahun.

"Dengan pertumbuhan di kuartal I-2023 yang menggembirakan ini, kami perlu mempersiapkan engine untuk growth. Salah satunya adalah sumber pendanaan yang perlu diperbanyak. Untuk mengimbangi pertumbuhan bisnis, mungkin gearing ratio yang 1 kali akan menjadi di kisaran 2 kali," kata Gani saat ditemui di Jakarta, belum lama ini.

Tantangannya, kata dia, selepas kuartal I-2023, multifinance akan dihadapkan pada kondisi biaya dana (cost of fund/CoF) yang tinggi. Fenomena ini akan berimbas pada penyusutan margin bunga yang diperoleh perusahaan. Kendati demikian, tergerusnya margin bunga tidak ekstrem seperti yang diperkirakan sebelumnya.

"Kalau The Fed menaikkan suku bunganya secara luar biasa, maka biaya dana akan naik drastis. Namun, dengan inflasi yang terkendali, BI mungkin akan memandang ini untuk dapat menahan dampak lebih dalam. Para penyalur pinjaman juga istilahnya tidak gila-gilaan mematok bunga tinggi ke kita," jelas Gani.

Selanjutnya, Mandala Finance (MFIN) yang mencetak laba bersih Rp 149,57 miliar, namun terkontraksi 7,6% (yoy) pada kuartal I-2023. Seluruh pos beban yang bergerak naik menjadi faktor utama. Total beban perusahaan naik 24,09% (yoy) menjadi Rp 385,76 miliar.

Sedangkan total pendapatan tumbuh 10,93% (yoy) menjadi Rp 574,3 miliar. Perolehan ini relatif tinggi dibandingkan piutang pembiayaan yang hanya naik 2,37% (yoy) menjadi Rp 4,86 triliun. Tertahannya pertumbuhan ini ditengarai disebabkan masih tersisa dampak pandemi untuk para konsumen pembiayaan roda dua.

Adapun emiten keempat yang turut mencetak perolehan laba cukup besar yakni Clipan Finance (CFIN). Pada kuartal I-2023, laba bersih Clipan Finance mencapai Rp 105,08 miliar atau terbang 6.529,8% (yoy) dari periode sebelumnya sebesar Rp 1,59 miliar.

Perolehan tersebut didukung oleh pendapatan perusahaan yang meningkat 18,43% (yoy) pada kuartal I-2023 menjadi Rp 426,88 miliar. Sementara, total beban berhasil ditekan sampai dengan 18,66% (yoy) menjadi Rp 292,13 miliar, seiring perbaikan dari sisi aset keuangan.

Dari sisi bisnis, piutang pembiayaan Clipan Finance tercatat melesat 25,62 menjadi Rp 8,04 triliun per kuartal I-2023. Lini pembiayaan kendaraan bermotor ikut mendongkrak perolehan ini, disamping pembiayaan barang berupa alat berat dan pembiayaan investasi lainnya.

Mengacu laporan tahunan Clipan Finance, perusahaan membidik penyaluran pembiayaan baru tahun 2023 mencapai Rp 8,03 triliun, tumbuh 8,45% dari realisasi tahun 2022 sebesar Rp 7,41 triliun. Dengan aspirasi tersebut, pendapatan bersih dipatok Rp 1,66 triliun atau naik 10%. Begitu juga imbasnya ke laba bersih yang dicanangkan mencapai Rp 339,17 miliar atau naik 9,15% di tahun ini.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 4 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia