Rupiah Melemah karena Khawatir Perlambatan Ekonomi Tiongkok
JAKARTA, investor.id – Analis Pasar Mata Uang Lukman Leong menyatakan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disebabkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok dan prospek suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
“Seperti yang diperkirakan, Tiongkok tadi pagi menurunkan suku bunga pinjaman sebesar 10 basis poin (bps) untuk merespons perlambatan ekonomi,” ujarnya, dikutip dari Antara pada Selasa (20/6).
Menurut dia, perlambatan ekonomi Tiongkok disebabkan permintaan domestik dan global atau ekspor dan impor yang masih lemah. Pada Minggu (18/6), Goldman Sach menurunkan cukup besar proyeksi pertumbuhan negara tersebut.
“Sentimen ini bisa bertahan cukup lama, mengingat Tiongkok adalah ekonomi terbesar di Asia dan kedua di dunia. (Namun) pasar tentunya telah mengantisipasinya, kecuali memburuk. Hal ini akan terus menjadi perhatian investor,” tutur Lukman.
Meninjau sentimen dari AS, investor masih menantikan penjelasan Gubernur The Fed Jerome Powell di depan kongres AS pada Kamis (22/6).
“Powell diharapkan memberikan penjelasan kebijakan suku bunga The Fed ke depan, mengingat pada FOMC (Federal Open Market Committee) minggu lalu mengisyaratkan akan ada dua kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun,” kata dia.
Kenaikan suku bunga akan menjadi pemberat bagi rupiah, mengingat Bank Indonesia (BI) sudah mulai berencana menurunkan suku bunga.
”Apabila ini terjadi, maka divergensi kebijakan suku bunga antara BI dan The Fed akan menekan rupiah. Tanpa menurunkan suku bunga pun, suku bunga BI akan sama dengan The Fed yang apabila menaikkannya dua kali,” katanya.
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa melemah 0,36% atau 54 poin menjadi Rp 14.994 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 14.940 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






