The Fed Kumat Lagi, tapi Enam Saham Ini Masih Bisa Ngegas
Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih mengatakan, sikap The Fed yang masih hawkish akan berlanjut untuk menekan inflasi di AS hingga berada di target sebesar 2%. Karena itu, kata dia, masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Federal Funds Rate (FFR) 50 bps sampai akhir 2023 dibandingkan saat inu 5-5,25%.
“Akibatnya, saham sektor teknologi akan kembali melemah. Kemudian indeks Nasdaq turun 1,75% dalam sepekan, sejalan dengan pergerakan saham teknologi di pasar saham domestik yang 4,26%,” kata dia.
Ratih merekomendasi buy saham BRIS di area Rp 1.680 dengan resistance Rp1.750, MAPI (resistance Rp 1.780), dan MDKA (resistance Rp 3.350).
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus juga berpendapat, potensi kenaikan suku bunga hingga akhir tahun 2023 yang diisyaratkan sejumlah bank sentral, seperti The Fed, Bank Sentral Eropa, Bank Sentral Inggris, dan Bank Sentral Austraila menyebabkan IHSG melemah.
“Jadi, kami melihat, IHSG pekan ini berpotensi melemah namun terbatas dengan rentang 6.600 -6.666,” ucap Nico.
Hans Kwee, direktur Equator Swarna Investama, menegaskan, sentimen yang berpengaruh besar ke pasar saham adalah potensi penaikan suku bunga acuan AS sebanyak dua kali hingga akhir 2023. Powell sudah memberikan kode keras soal ini di hadapan kongres.
Adapun bulan ini, The Fed menahan The Federal Funds Rate (FFR) di level 5-5,25%, seiring terkendalinya inflasi. Merujuk survei CME FedWatch Tool, kenaikan suku bunga AS mencapai 25 bps di Juli 2023 naik dari sekitar 74% menjadi 76,9%.Level FFR yang lebih tinggi dari saat ini akan meningkatkan biaya pinjaman bagi kalangan bisnis dan konsumen, sehingga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






