Kupon Mahal, BTN (BBTN) Absen Rilis Obligasi
JAKARTA, investor.id – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN tahun ini belum ada rencana penerbitan obligasi maupun sekuritisasi, dua instrumen tersebut dinilai sebagai pilihan terakhir perseroan. Pasalnya, untuk menerbitkan surat utang perlu menrogoh biaya yang tidak murah, sehingga BTN fokus untuk mencari sumber pendanaan dari dana pihak ketiga (DPK) utamanya dana murah.
Direktur Distribution and Funding BTN (BBTN) Jasmin mengatakan, biasanya BTN setiap tahun memang selalu menerbitkan surat utang. Hal itu lantaran loan to deposit ratio (LDR) BTN yang selalu berada di atas 100% yang menunjukkan bahwa dana yang dihimpun perseroan tidak cukup untuk membiayai penyaluran kredit, sehingga harus mencari pinjaman, seperti menerbitkan obligasi, KIK EBA, atau pinjaman antarbank.
Namun, sejak tahun 2020 BTN sangat minim menerbitkan obligasi, bahkan tahun lalu perseroan tidak menerbitkan surat utang karena LDR sudah di bawah 100% tepatnya sekitar 92-93%. “LDR akan kami jaga tidak menyentuh 95%. Nerbitin bond itu mahal lho, kalau sekarang deposito 4,5%, 5%, bond tidak mungkin 4-5%, bisa 8%, 9%. Kalau kami terbitkan Rp 1 triliun saja dikali 3% itu sudah Rp 30 miliar, lumahan selisih cost. Jadi bond itu langkah terakhir kalau sentuh LDR di atas 100%,” jelas Jasmin di Jakarta, akhir pekan lalu.
Jasmin menyebut, zaman dulu BTN rajin menerbitkan obligasi Rp 3 triliun, Rp 5 triliun, bunganya ada yang 9%, 10%. Bunga obligasi jauh lebih mahal dibandingkan deposito, sehingga perseroan berpikir ulang untuk menerbitkan surat utang. “Obligasi itu benchmark surat utang negara (SUN), tidak bisa lebih rendah dari itu kuponnya, bisa di atas 6%. Selama likuiditas kuat, LDR kami jauh di bawah 100%, ngapain menerbitkan obligasi, obligasi itu sesuai kebutuhan saja,” papar Jasmin.
Bahkan, tahun lalu saja BTN melakukan pelunasan obligasi 4-5 tahun, sehingga bisa menghemat kupon untuk ganti ke DPK. Menurut Jasmin, dana idle itu mahal untuk BTN, karena CASA perseroan yang rendah hanya 52% terhadap total DPK. “Beda dengan BCA dan Mandiri, kalau ada dana idle mereka cost of fund lebih rendah,” ucap dia.
Tahun ini, BTN mengincar CASA di level 55% terhadap total DPK atau senilai Rp 200 triliun. Per kuartal I-2023 BTN sudah mengumpulkan CASA sebesar Rp 167 triliun dengan proporsi 52% dari DPK. Perseroan terus meningkatkan CASA guna menekan biaya dana, yang pada akhirnya diharap dapat membuat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi lebih murah.
“Ini karena empat inisiatif strategi yang kami dorong pada tahun ini mencatatkan progres yang signifikan, dalam membangun ekosistem transaksi wholesale secara end to end, mengembangkan transaksi tabungan retail melalui bundling BTN Bisnis, menyempurnakan bisnis wealth management dan meningkatkan digital capabilities dengan BTN Mobile,” kata Jasmin.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






