Jumat, 15 Mei 2026

Akuisisi Dibatalkan, PTBA Berpotensi Dapat Duit Rp 172,72 Miliar

Penulis : Parluhutan Situmorang
3 Jul 2023 | 07:49 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
Sumber; IST
Ilustrasi PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Sumber; IST

JAKARTA, Investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melalui anak usahanya PT Internasional Prima Coal (IPC) berpotensi mendapatkan pendapatan senilai Rp 172,72 miliar. Pendapatan tersebut dipicu atas batalnya akuisisi PT Tabalong Prima Resources (TPR) dan PT Mitra Hasrat Bersama (MHB).

Hal tersebut terungkap dalam keterbukaan informasi yang disampaikan oleh PTBA dan PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) pekan lalu.

PGS Sekretaris Perusahaan PTBA Finoriska Citraning mengatakan, IPC telah menandatangani perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) saham pada TPR dan MHB pada 2015 lalu dengan porsi masing-masing 34,17%.

ADVERTISEMENT

Namun, PPJB tersebut sampai dengan akhir periode keberlakuannya tidak bisa diselesaikan, karena masih terdapat beberapa prasyarat yang tidak bisa dipenuhi oleh pihak penjual.

“Oleh karena itu, IPC telah melakukan kajian mendalam terkait dengan keberlanjutan rencana akuisisi tersebut, dengan dibantu oleh konsultan independen direkomendasikan untuk tidak melanjutkan akuisisi saham TPR dan MHM,” kata Finoriska.

Finoriska mengatakan, IPC telah mendapatkan persetujuan yang dibutuhkan untuk menandatangani perjanjian pengakhiran rencana transaksi akuisisi TPR dan MHB pada 9 Desember 2022.

Hal ini ditindaklanjuti dengan dengan rapat umum pemegang saham (RUPS) TPR dan MHB yang pada intinya menyetujui pengalihan saham milik IPC kepada pemegang saham awal sebelum dilakukan akuisisi.

Terkait dengan pengakhiran tersebut, maka IPC mendapatkan pengembalian uang sebesar US$ 12,3 juta dan kompensasi atas biaya-biaya sebesar US$ 946.095 (pembayaran) dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku. Nilai tersebut setara dengan Rp 198,69 miliar dengan(kurs US$1 = Rp 15.000) yang terdiri atas pengembalian dana Rp 184,5 miliar dan biaya-biaya sebesar Rp 14,19 miliar.

Sebagai informasi, PTBA memiliki 51% saham IPC dan sisanya dimiliki oleh PT Mega Raya Kusuma, anak usaha dari PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT). Dalam keterbukaan informasi SMMT disebutkan bahwa IPC akan membukukan pendapatan lain-lain dari selisih Pembayaran dengan nilai tercatat investasi IPC pada TPR dan MBH.

Apabila menggunakan nilai tercatat investasi per posisi 31 Desember 2022, maka perkiraan pendapatan lain-lain IPC dari transaksi ini adalah sebesar US$ 11,48 juta atau sekitar Rp 172,72 miliar. Sebagian keuntungan tersebut akan dicatatkan di PTBA dan sebagian lagi di SMMT.

Selain mendapatkan pengembalian, PTBA juga bakal memiliki likuiditas melimpah. Dana investasi, yang semula dialokasikan untuk pengembangan di perusahaan yang akan diakuisisi, bisa digunakan untuk ekspansi atau aksi korporasi lainnya. Ini tentu meningkatkan kemampuan PTBA untuk meningkatkan shareholders value di tengah tekanan penurunan harga batubara.  

Konsensus Analis

Dibatalkannya akusisi akan menjadi kabar positif bagi para investor PTBA setelah dalam dua hari sebelumnya emiten ini mengalami tekanan jual usai cum date dividen. Pada pekan lalu, saham PTBA ditutup pada level Rp 2.680, yang merupakan terendah sejak awal Januari 2022 lalu. Saham PTBA setara dengan dengan Price to Book Value (PBV) 1,05x dan Price to Earnings Ratio (PER) 6,64x yang mencerminkan harga yang cukup murah secara fundamental.

Konsensus para analis yang dihimpun Bloomberg dengan melibatkan 28 analis menghasilkan target harga saham PTBA ada di angka Rp3.390/saham. Dengan 8 analis merekomendasikan peringkat buy dan 14 merekomendasikan peringkat hold untuk saham PTBA, yang mencerminkan potensi keuntungan 26,5% dari harga saat ini.

Salah satunya adalah Samuel Sekuritas yang merekomendasikan hold saham PTBA dengan target harga Rp3.500/saham.

Analis Samuel Sekuritas Juan Harahap memaparkan, akan ada katalis potensial untuk industri batu bara dalam bentuk stimulus ekonomi, setelah China memutuskan untuk memangkas suku bunga pinjaman jangka menengahnya untuk meningkatkan likuiditas sektor keuangan.

Kemudian Juan juga menyebut adanya titik cerah terhadap kenaikan harga batu bara yang substansial pada kuartal IV-2023 di saat musim dingin nanti. Datangnya musim dingin diperkirakan akan mengangkat permintaan komoditas energi, termasuk batu bara.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia