Jumat, 15 Mei 2026

Meski Terkoreksi, Target Harga Saham Mitratel (MTEL) masih Menggiurkan

Penulis : Parluhutan Situmorang
6 Jul 2023 | 19:07 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Mitratel (MTEL). (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Mitratel (MTEL). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, investor.id –  Saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel berakhir di zona merah, Kamis (6/7/2023). Saham raja menara telekomunikasi ini terkoreksi Rp 15 (2,17%) Rp 675.

Meski ditutup melemah, penurunan tersebut tegolong masih wajar secara teknikal setelah MTEL berhasil menguat selama tiga hari berturut-turut. Bahkan, dalam sebulan terakhir, saham MTEL masih menorehkan penguatan sebanyak 3,85%.

Koreksi ini juga dipicu oleh kekhawatiran atas risalah rapat The Fed yang menyiratkan rencana kenaikan suku bunga. Meski demikian, efek sentimen The Fed bakal bersifat temporer karena pelaku pasar sudah mengantisipasi situasi ini sejak jauh hari.

ADVERTISEMENT

Lalu, bagaimana prospek jangka panjang MTEL? Sejumlah sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga di atas IPO atau lebih dari Rp 800 untuk MTEL. Konsensus analis menyarankan beli dengan persentase mencapai 97%. Hanya satu sekuritas yang menyematkan rekomendasi hold.

Beberapa analis menilai bahwa saham MTEL mengalami situasi salah harga lantaran emiten ini memiliki kinerja keuangan yang sangat baik dan ditopang fundamental bisnis yang kuat. Maka itu, harga saham dianggap belum mencerminkan performa perusahaan.

Margin Keutungan

Salah satu daya tarik MTEL di mata investor adalah net profit margin (NPM) yang lebih baik dari kompetitor. Margin keuntungan bersih adalah rasio persentase yang mengukur tingkat efisiensi perusahaan dalam mengoperasikan bisnis untuk menghasilkan laba bersih.

Berdasarkan data, NPM MTEL mencapai 24,38% hingga kuartal I-2023 dengan laba bersih Rp 501 miliar dan pendapatan Rp 2,06 triliun. Raihan laba tersebut mencerminkan peningkatan dibandingkan dengan hasil pada 2022 dan 2021 sebesar 23,09% dan  20%.

Di sisi lain, TOWR dan TBIG kendati memiliki NPM yang lebih tinggi, tapi tengah berada dalam tren penurunan. NPM TOWR pada kuartal I-2023 mencapai 26,27%. Sedangkan pada akhir 2022 sebesar 31% dan akhir 2021 mencapai 39,5%.

Kondisi serupa melanda TBIG dengan NPM kuartal I-2023 sebesar 20,52%. Terjadi penurunan dari tahun 2022 dan 2021 sebesar 24%.

Kondisi tersebut  mendorong tim riset JP Morgan untuk merekomendasikan overweight saham MTEL dan netral untuk TBIG dan TOWR.

"Sebagai pemain menara terkemuka, Mitratel memiliki posisi yang baik untuk pertumbuhan organik dan anorganik, menurut pandangan kami.  Didukung oleh pertumbuhan data nirkabel, persyaratan investasi jaringan, hubungan dengan operator jaringan, dan ruang kepala keuangan untuk mendukung pertumbuhan anorganik," tulis tim riset JP Morgan yang diterbitkan baru-baru ini.

Tiga Katalis

Sementara itu,  CGS-CIMB menyoroti tiga katalis posiitif MTEL. Pertama pertumbuhan tenan bisa mencapai 4-5 ribu per tahun dan jauh lebih tinggi dari pertumbuhan kompetitor berkisar 2,2-3 ribu per tahun. Hal ini disebabkan eksposur menara MTEL yang dominan di luar Jawa.

Kedua, pertumbuhan pendapatan dan EBITDA per tahun yang lebih premium dibandingkan industri. CGS-CIMB memperkirakan pertumbuhan pendapatan MTEL bakal mencapai 9,5% per tahun sejak 2022-2025, sementara pertumbuhan pendapatan industri hanya 6% di periode yang sama.

EBITDA MTEL juga diproyeksikan meningkat 10,8% untuk periode 2022-2025 sedangkan dalam periode tersebut pertumbuhan EBITDA industri hanya 6% sejalan dengan pendapatan industri.

Ketiga, agresivitas perseroan dalam memasuki bisnis fiber. MTEL secara cepat memperkuat posisinya di industri fiber dengan portofolio jaringan fiber mencapai 16,6 ribu km pada 2022 dan menargetkan tambahan sepanjang 13 ribu km.

“Kami memperkirakan bisnis fiber akan menjadi pendorong pertumbuhan MTEL dan mengestimasi kontribusi pendapatan segmen ini meningkat 2x dari 3% di 2023 menjadi 6% di 2025” tulis Riset tersebut.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 41 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia