Harga SUN Bakal Menguat
JAKARTA, investor.id - Harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi menguat sampai akhir tahun atau sepanjang semester II-2023. Soalnya, suplai SUN yang diterbitkan pemerintah akan semakin sedikit dibandingkan semester I, sehingga imbal hasil (yield) bakal turun.
“Pasar SUN Indonesia cenderung menguat walau pekan lalu sedikit melemah. Pelemahannya lebih karena profit taking. Yield pekan ini masih bergerak pada rentang 6,2-6,3%,” kata Head of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut Ramdhan, pergerakan yield 10 tahun masih cukup sempit, walau kondisi global belum terlalu baik karena The Fed masih merencanakan dua kali kenaikan FFR.
Pekan lalu, yield 10 tahun sempat di bawah 6,2%. Namun likuiditas perbankan di Indonesia dipastikan masih kuat dan memilih SUN untuk portofolio mereka. Dana pihak ketiga (DPK) di perbankan pun masih cukup besar dan masih antre untuk masuk ke obligasi.
“Jadi, walau asing belum banyak tertarik masuk pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia, investor domestik masih kuat, terutama perbankan,” tandas dia.
Ramdhan menjelaskan, investor asing belum masuk ke pasar SUN karena kondisi ekonomi global belum stabil. Mereka masih membandingkan SUN dengan US Treasury Bond.
Ramdhan menampik anggapan bahwa SUN tidak menarik bagi asing. Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, kepemilikan asing di SUN per 6 juli 2023 hanya 15,38% atau Rp 842,74 triliun.
Mayoritas SUN dikuasai pemodal domestik, yakni perbankan 29,53% (Rp 1.708,87 triliun), BI 17,29% (Rp 947,73 triliun), dan nonbank sekitar 32,17%. Padahal, sebelum pandemi, kepemilikan asing di pasar SBN mencapai 40%.
“Tingkat risiko meningkat saat pandemi, makanya asing pindah ke US Treasury. Namun karena likuiditas dalam negeri baik, terutama perbankan, akhirnya pasar SBN terselamatkan dengan yield yang bahkan lebih kecil dari sebelum pandemi,” papar Ramdhan.
Dia meyakini, harga SUN akan menguat sampai akhir tahun dengan yield semakin mengecil. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kebijakan pemerintah membatasi penerbitan SUN saat ini, sehingga suplai mulai terbatas.
Ramdhan memprediksi pemodal domestik masih mendominasi pasar SBN sampai akhir 2023, dengan yield 10 tahun mengarah ke level 6%.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





