Harga Emas Naik Tajam Berkat Lemahnya Data Ekonomi AS
CHICAGO, investor.id - Harga emas naik tajam pada penutupan perdagangan Selasa (19/7/2023). Membalikan penurunan pada sehari sebelumnya. Hal ini berkat melemahnya data ekonomi AS dari perkiraan. Serta, jatuhnya imbal hasil obligasi global mendorong investor mencari tempat berlindung potensial yang lebih baik seperti emas.
Dikutip dari Antara, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange melonjak US$ 24,40 (1,25%) menjadi ditutup pada US$ 1.980,8 per ons, setelah menyentuh level tertinggi sesi di US$ 1.988,3, puncak yang belum tersentuh sejak mencapai US$ 2 ribu pada akhir Mei 2023.
Emas berjangka tergelincir US$ 8 (0,41%) menjadi US$ 1.956,40 pada Senin (17/7/2023). Setelah naik tipis US$ 0,6 (0,03%) menjadi US$ 1.964,40 pada Jumat (14/7/2023). Terdongkrak US$ 2,1 (0,11%) menjadi US$ 1.963,80 pada Kamis (13/7/2023).
Departemen Perdagangan AS melaporkan Selasa (18/7/2023) bahwa penjualan ritel AS naik 0,2% menjadi US$ 689,5 miliar pada Juni. Angka itu lebih lemah dari perkiraan. Ini menunjukkan bahwa konsumen AS terus ditekan oleh kendala dari biaya pinjaman yang lebih tinggi dan kenaikan harga-harga.
Federal Reserve (The Fed) melaporkan Selasa (18/7/2023) bahwa produksi industri AS turun 0,5% pada Juni. Penurunan itu di bawah ekspektasi pembacaan datar oleh para ekonom. Indeks National Association of Home Builders/Wells Fargo Housing Market naik tipis satu poin menjadi 56 pada Juli, kenaikan bulanan ketujuh berturut-turut, memenuhi ekspektasi dari para ekonom.
"Emas mungkin berjuang untuk mencapai level US$ 2 ribu, tetapi itu bisa berubah jika imbal hasil obligasi terus turun dan Fed memberi sinyal bahwa mereka kemungkinan akan melakukan kenaikan minggu depan setelah memberikan satu kenaikan suku bunga seperempat poin terakhir," kata Ed Moya, analis di platform perdagangan daring OANDA.
Semua mata kini tertuju pada The Fed dan apa yang akan dilakukannya terhadap suku bunga ketika para pembuat kebijakan duduk kembali pada 26 Juli untuk memutuskan suku bunga.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan mengadakan pertemuan pada 26 Juli. Investor memperkirakan satu kenaikan suku bunga lagi pada pertemuan tersebut.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September terdongkrak 23,80 sen (0,95%) menjadi ditutup pada US$ 25,25 per ons. Platinum untuk pengiriman Oktober terangkat US$ 6,9 (0,70%) menjadi menetap pada US$ 994,4 per ons.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






