Harita Nickel (NCKL) Terimbas Harga Komoditas, Ini Target Baru Sahamnya
JAKARTA, investor.id – Kinerja PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)/TBP atau Harita Nickel diperkirakan tidak akan terlalu istimewa pada kuartal II-2023, terutama karena penurunan harga nikel (-14,1% qoq) dan kobalt (-14% qoq).
Meski demikian, produksi perusahaan tambang nikel milik Grup Harita yang dikendalikan konglomerat Lim Hariyanto Wijaya Sarwono ini berpeluang meningkat pada kuartal II-2023. Hal tersebut didorong oleh tingkat utilisasi yang lebih tinggi di smelter HJF RKEF – yang mulai beroperasi pada akhir 2022 – dan HPAL milik Harita Nickel.
“Namun, itu tampaknya tidak cukup untuk mengimbangi penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP),” tulis analis Samuel Sekuritas Juan Harahap dalam riset terbaru.
Dia pun merevisi perkiraan harga nikel menjadi US$ 22.500 per ton dari sebelumnya US$ 23.500 per ton, serta menurunkan estimasi laba bersih Harita Nickel pada 2023 dan 2024 masing-masing sebesar 32,1% dan 26,7%.
Menurut Juan, harga komoditas tambang logam turun cukup tajam pada kuartal II-2023. Harga nikel LME, harga NPI, dan harga kobalt Shanghai masing-masing turun 14,1%, 18%, dan 14,1% (qoq). Hal ini disebabkan oleh kombinasi dari pemulihan ekonomi Tiongkok yang lebih lambat dari perkiraan. Akibatnya, permintaan baja nirkarat (stainless steel) turun. Selain itu, karena besarnya pasokan nikel menyusul lancarnya pembangunan smelter nikel di Indonesia.
Dia memperkirakan pendapatan emiten berkode saham NCKL itu turun pada kuartal II-2023, meski ada kenaikan produksi karena didukung oleh tingkat utilisasi yang lebih tinggi di smelter RKEF dan HPAL.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






