Jumat, 15 Mei 2026

Batu Bara Panas, Empat Saham Ini Bisa Naik hingga 39%

Penulis : Muawwan Daelami
25 Jul 2023 | 06:00 WIB
BAGIKAN
Proyek Harum Energy. Foto: DEFRIZAL
Proyek Harum Energy. Foto: DEFRIZAL

JAKARTA, Investor.id – Saham-saham batu bara di Bursa Efek Indonesia (BEI) memanas, sehingga menjadi motor penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 0,27% ke level 6.899, Senin (24/7/2023). Hal ini dipicu potensi kenaikan permintaan batu bara di pasar global, seiring cuaca panas ekstrem yang melanda kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara.  

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) naik 4,9% ke level Rp 19.650. Kemarin, saham BYAN menjadi penggerak terbesar IHSG dengan kontribusi kenaikan 15,5 poin dengan market cap Rp 655 triliun, nomor tiga di BEI setelah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masing-masing Rp 1.111 triliun dan Rp 840 triliun.

Selanjutnya, saham PT United Tractors Tbk (UNTR), kontraktor dan perusahaan tambang batu bara milik Grup Astra, naik 3,7% dan menyumbangkan 3,49 poin penguatan indeks, sedangkan saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) naik 2,1%, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) 4,6%, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) 3,2%.

ADVERTISEMENT

Sepanjang bulan ini, saham BYAN juga menjadi penyumbang kenaikan indeks terbesar, yakni 69 poin. Selama mounth to date (mtd), saham BYAN melonjak 26,8%.

Tren penguatan saham batu bara diprediksi berlanjut sampai akhir 2023. Syaratnya, harga batu bara tidak ambles dalam. Sejauh ini, ada empat saham batu bara yang layak dicermati dan mendapatkan rekomendasi positif, yakni ADRO, PTBA, ITMG, dan PT Harum Energy Tbk (HRUM), dengan potensi kenaikan hingga 39%.

Analis Mirae Asset Sekuritas Rizkia Darmawan menyampaikan, volatilitas harga batu bara dalam waktu dekat akan termoderasi, berkat kenaikan permintaan dari sektor listrik Tiongkok, yang terjadi sejak Februari 2023. Industri pembangkit listrik membutuhkan tambahan batu bara untuk melayani lonjakan permintaan dari sektor rumah tangga dan tersier, seperti untuk air conditioner (AC).

“Jadi, cuaca panas di Tiongkok lebih esktrem dari biasanya. Makanya, kemudian suplai listrik diperlukan lebih banyak lagi untuk AC, sehingga demand coal meningkat,” ungkap Rizkia dalam riset, Senin (24/7/2023).

Selain dari Tiongkok, dia menerangkan, pasar batu bara di India memberikan eksposur ke saham-saham batu bara. Soalnya, pemerintah India berencana meningkatkan produksi dan persediaan batu bara termal di pembangkit listrik, seiring konsumsi listrik yang diprediksi meningkat.

“Jadi, terlepas dari adanya kekhawatiran musim penghujan, India ternyata masih me-manage untuk memproduksi batu bara dan meningkatkan stok,” imbuh Rizkia.

Tidak berhenti di situ, Rizkia melihat, Vietnam juga mengalami extreme heat wave dengan temperatur mencapai 37-39 derajat celcius. Hal ini akan mendorong permintaan batu bara. Terlebih, Vietnam merupakan negara yang mengandalkan pembangkit listrik berbasis batu bara, dengan kontribusi sebesar 45%.

“Jadi, secara overall, dalam waktu dekat ini, negara-negara di Asia Pasifik dan Asia Tenggara dilanda kepanasan ekstrem dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini akan meningkatkan permintaan batu bara termal di kawasan itu,” papar dia.

Maka dari itu, Rizkia memproyeksikan harga rata-rata batu bara Newcastle pada 2023 mencapai US$ 175 per ton, dibandingkan posisi per 15 Juni 2023 sebesar US$ 136 per ton. Adapun harga batu bara ICI4, harga acuan batu bara Indonesia, relatif stabil, sekitar US$ 73-75 per ton, mengingat eksportir utama memilih batu bara kalori menengah tinggi yang lebih terjangkau.

“Di luar itu, dukungan stimulus pemerintah Tiongkok diprediksi menggairahkan aktivitas manufaktur kuartal IV tahun ini, setelah melemah pada kuartal III.  Ini akan mendukung kenaikan harga batu bara yang dibarengi kuatnya permintaan dari India,” terang Rizkia.

Dia merekomendasikan saham PTBA dengan target harga Rp 3.175, mencerminkan potensi upside 13,8% dari posisi per 20 Juli 2023 sebesar Rp 2.790, lalu ADRO dengan target harga Rp 2.795, potensi upside 15,5%.

Rizkia juga memfavoritkan saham ITMG dengan target harga Rp 30.400, potensi upside 13,5% dari harga per 20 Juli 2023 sebesar Rp 26.775, dan HRUM dengan target harga Rp 2.150, potensi upside 39,1% dari harga 20 Juli 2023 sebesar Rp 1.545.

Respons Emiten

Sementara itu, Corporate Secretary Bukit Asam Apollonius Andwie menyampaikan, harga batu bara dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari fluktuasi pasar, teknis, hingga geopolitik, yang semuanya di luar kendali perseroan.

“Walau demikian, kami optimistis dapat menjaga kinerja tetap positif pada 2023. Kami telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga agar kondisi keuangan sehat dengan konsisten mengedepankan cost leadership di setiap lini perusahaan, sehingga penerapan efisiensi secara berkelanjutan dapat dilakukan optimal,” jelas Apollonius kepada Investor Daily.

Apollonius menambahkan, PTBA juga akan memaksimalkan potensi pasar domestik dan peluang ekspor ke sejumlah negara prospektif seperti India dan Asia Tenggara untuk menggenjot penjualan.

Head of Corporate Communication Adaro Febriati Nadira menegaskan, perseroan optimistis dengan prospek pertumbuhan ke depan, seiring pertumbuhan permintaan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Asia Selatan.

Hingga kuartal I-2023, Febriati menyebutkan, tujuan utama penjualan batu bara perseroan mengarah pada pasar domestik sebesar 25% dan pasar Asia Tenggara sebesar 21%.

“Kami akan terus mengikuti perkembangan pasar dengan tetap menjalankan kegiatan operasional sesuai rencana di tambang-tambang milik perseroan. Kami fokus mempertahankan margin yang sehat dan kontinuitas pasokan ke pelanggan, sekaligus fokus memenuhi permintaan pelanggan dengan kontrak jangka panjang,” tutup Febriati.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia