Siapin Duit, Enam Saham Siklikal Bakal Manggung di Semester II
JAKARTA, Investor.id - Sebanyak enam saham siklikal diprediksi berkibar semester II-2023 dan dapat menjadi pilihan investasi, ditopang kondusifnya kondisi ekonomi global dan domestik. Saham-saham ini berasal dari sektor otomotif, bank besar, semen, dan pertambangan mineral.
Keenam saham itu, berdasarkan riset RHB Sekuritas, dikutip Selasa (25/7/2023), adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 6.450, Rp 11.700, Rp 7.750, Rp 3.160, Rp 14.300, dan Rp 8.300.
RHB Sekuritas menilai, kondisi makro ekonomi nasional sangat kuat, terlihat pada pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,03% kuartal II-2023. Hal ini ditambah oleh langkah Bank Indonesia (BI) yang terus mempertahankan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), di level 5,75%.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), kemarin, BI memastikan, BI7DRR akan dipertahankan di level itu, kendati bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuan, Federal Funds Rate (FFR), sebesar total 50 basis points (bps) ke level 5,5-5,75% hingga akhir 2023.
RHB menilai, stabilnya suku bunga akan menggenjot konsumsi produk yang dibeli secara kredit. Bahkan, jika BI memangkas suku bunga acuan, penjualan produk seperti ini akan naik lebuh tinggi. Konsensus analis kini mulai bicara potensi penurunan BI7DRR semester II tahun ini. Mereka menilai, suku bunga acuan sudah mencapai puncak dan pemerintah tidak lagi memerlukan bunga tinggi, lantaran ekonomi tidak memanas.
RHB memprediksi, belanja pemerintah melesat semester II-2023. Pemicunya adalah surplus APBN sebesar Rp 204 triliun per Mei 2023, naik dibandingkan tahun lalu Rp 132 triliun. Memang, persentase surplus turun menjadi 1% pada Mei dari sebelumnya 1,1% pada April. Akan tetapi, masih tinggi dibandingkan Mei 2022 yang hanya 0,7%.
“APBN 2023 menetapkan defisit Rp 598 triliun atau 2,8% dari PDB. Artinya, pemerintah bisa menggenjot belanja untuk mengerek ekonomi pada paruh kedua 2023,” tulis RHB.
Seiring dengan itu, tulis RHB, pemain telekomunikasi, barang konsumsi, dan rokok diuntungkan oleh hal tersebut. Adapun saham sektor kesehatan diuntungkan oleh disahkannya UU Kesehatan, belum lama ini.
Konsumsi masyarakat, tulis RHB, juga bakal terkerek oleh penaikan gaji PNS berkisar 5-7%. Hal ini akan diumumkan Presiden saat membacakan nota keuangan dan RUU APBN 2024, Agustus mendatang.
RHB mempertahankan proyeksi IHSG sebesar 7.450 hingga akhir 2023, dengan PER 2023 dan 2024 14 kali dan 13 kali, -1 standar deviasi dari rata-rata lima tahun terakhir. Kemarin, indeks naik 0,2% ke level 6.917, melanjutkan tren kenaikan dalam tiga hari terakhir perdagangan.
Capital Inflow
Di sisi lain, indikasi menggeliatnya saham bank besar terlihat sejak pekan lalu, di mana pemodal asing mulai agresif memborong saham BBRI, BBCA, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Pekan lalu, net buy asing di tiga saham bank besar itu mencapai Rp 1,3 triliun.
Tren ini berlanjut pada pekan ini. Buktinya, dari total net buy asing, kemarin, Rp 636,03 miliar, BBCA menarik Rp 358,4 miliar, BBRI Rp 194,29 miliar, dan BMRI Rp 97 miliar. Alhasil, saham BBRI mencetak all time high kemarin, setelah menyentuh level Rp 5.700, sebelum ditutup di level Rp 5.650.
Besarnya net buy asing membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), naik 18,31 poin (0,27%) ke level 6.917,7, kemarin. Total net buy asing hingga kemarin Rp 20,2 triliun.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat, aliran dana asing masuk (capital inflow) mencapai Rp 1,6 triliun pada pekan ketiga Juli 2023, sehingga total akumulasi mencapai Rp 3,2 triliun. Jumlah itu hampir mendekati total dana asing keluar (capital outflow) pada Juni sebesar Rp 3,7 triliun.
Pemodal asing gencar membeli saham-saham bank besar, sebesar Rp 1,3 triliun, yang berkontribusi 41% terhadap total inflow secara month to date (mtd). Hanya saham BBNI yang mencetak capital outflow pada Juli, yakni Rp 704 miliar.
“Saham lain yang menarik capital inflow adalah ASII, KLBF, dan ICBP, melanjutkan tren selama 17 pekan beruntun,” tulis broker itu.
Sementara itu, di pasar obligasi, imbal hasil surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun naik 5 bps menjadi 6,23%. Asing menambah kepemilikan di surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 5,3 triliun menjadi Rp 848 triliun per 17 Juli 2023.
Namun, kepemilikan perbankan dan reksa dana turun Rp 18,9 triliun dan Rp 120 miliar. Sebaliknya, kepemikikan asuransi dan dana pensiun di SBN bertambah Rp 2,16 triliun. (hut)
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






