Jumat, 15 Mei 2026

Saham Amman Mineral Lebih Jos ketimbang NCKL dan MBMA, Ini Penyebabnya

Penulis : Harso Kurniawan
29 Jul 2023 | 06:00 WIB
BAGIKAN
Tambang tembaga dan emas PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). (Foto: AMMN)
Tambang tembaga dan emas PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). (Foto: AMMN)

JAKARTA, investor.id – Prospek profitabilitas PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dinilai lebih solid ketimbang dua saham IPO besar lainnya sepanjang 2023, yakni PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBM/MBMA). Ini menjadi penyebab kenaikan saham AMMN, sehingga lebih baik dari MBMA dan NCKL.

Saham AMMN melejit 57% ke level Rp 2.660 sejak menggelar debut di Bursa Efek Indonesia (BEI) 7 Juli 2023 hingga kemarin, dibandingkan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) Rp 1.695. Sementara itu, saham MBMA turun 7% ke level Rp 740 dibandingkan harga perdana Rp 795, sedangkan saham NCKL terpangkas 24% menjadi Rp 950 dibandingkan harga perdana Rp 1.250.

IPO Amman Mineral adalah yang terbesar sepanjang 2023, mencapai Rp 10,7 triliun. Dalam aksi itu, perseroan melepas 6,3 miliar saham dari total saham 71,9 miliar. Di posisi kedua, ada IPO Harita Nickel sebesar Rp 10 triliun, diikuti MBM Rp 8,7 triliun.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, lonjakan harga saham AMMN membuat market cap perusahaan ini melejit menjadi Rp 191 triliun hingga kemarin, dibandingkan saat debut sekitar Rp 121 triliun. Kini, market cap Amman bertengger di posisi tujuh, naik satu posisi dibandingkan hari sebelumnya di delapan, menggeser PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).

Di puncak, masih bertahan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan market cap Rp 1.114 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 855 triliun, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Rp 661 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 527 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 369 triliun, PT Astra International Tbk (ASII) Rp 268 triliun.

Sementara itu, market cap TPIA di posisi delapan mencapai Rp 181 triliun, diikuti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 164 triliun, dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) Rp 148 triliun.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pertumbuhan market cap Amman Mineral didorong oleh beberapa hal. Pertama, euforia saat IPO, lantaran Amman Mineral adalah perusahaan pertambangan emas dan tembaga nomor dua di Indonesia setelah PT Freeport Indonesia.

“Rencana ekspansi Amman Mineral pasca-IPO tentu menjadi magnet yang meningkatkan tingkat profitabilitas ketimbang emiten pertambangan lainya,” kata dia kepada Investor Daily, Jumat (28/7/23).

Belum lagi, lanjut Nafan, valuasi saham AMMN saat IPO menarik IPO, yakni di bawah 10 kali. Adapun saat ini, PER saham AMMN, berdasarkan data RTI mencapai 10,13 kali. Bandingkan dengan PER saham MBMA yang mencapai 55.377 kali, sedangkan NCKL 9,5 kali.

Faktor lainnya, kata dia, adalah kinerja mentereng selama 2022, yang disebabkan commodity boom price.

“Apabila semua faktor tersebut dikombinasikan, wajar saham AMMN naik luar biasa dan masuk dalam top 10 market cap di BEI,” ujar dia.

Seiring dengan itu, dia menilai, wajar saham AMMN jauh melampaui kinerja saham MBMA dan NCKL. Bagi Nafan, saham MBMA dan NCKL memang kurang likuid dan hanya cocok untuk trading jangka pendek.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar menyampaikan, secara teknis, melambungnya saham AMMN regulasi pemerintah yang mengizinkan perseroan mengekspor konsentrat tembaga.

“Ini faktor utama penyebab melambungnya AMMN saat ini.  Dengan begitu, dalam jangka pendek, tingkat profitabilitas dari AMMN akan lebih tinggi,” kata dia.

Sebelumnya, anak usaha Amman Mineral, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), telah memperoleh persetujuan ekspor konsentrat tembaga dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). Adapun izin tersebut untuk ekspor 900 ribu wet konsentrat tembaga berlaku mulai 24 Juli 2023 sampai 31 Mei 2024.

Di sisi lain, dalam jangka menengah dan panjang, dia menyatakan, industri baterai kendaraan listrik dan nikel masih menjanjikan profitabilitas yang juga tinggi. Artinya, prospek bisnis MBM dan Harita Nickel tidak akan kalah dengan AMMN.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 16 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 47 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 59 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia