Jumat, 15 Mei 2026

Pendapatan Surya Esa Perkasa (ESSA) Terkikis, Laba Makin Tipis

Penulis : Zsazya Senorita
30 Jul 2023 | 06:30 WIB
BAGIKAN
PT Surya Esa Perkasa Tbk. Foto: Perseroan.
PT Surya Esa Perkasa Tbk. Foto: Perseroan.

JAKARTA, investor.id - PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) melaporkan pendapatan sebesar US$ 168,2 juta sepanjang semester I-2023, turun 52% dibandingkan periode sama tahun lalu. Pereroan juga mencatatkan penurunan 76% EBITDA menjadi US$ 41,7 juta (year on year/yoy). Sedangkan laba bersih perseroan, merosot 94% (yoy) menjadi US$ 3,97 juta.

Manajemen Surya Esa Perkasa menjelaskan, pendapatan yang lebih rendah terutama dipengaruhi harga komoditas yang lebih rendah dan penutupan pabrik amoniak terjadwal selama tiga minggu untuk keperluan pemeliharaan yang dilakukan pada kuartal I-2023.

Harga realisasi ESSA untuk amoniak turun 53% (yoy) menjadi US$ 425 per metrik ton (MT) dalam enam bulan pertama tahun ini. Sebab, harga komoditas global anjlok sejak awal 2023 akibat lesunya permintaan.

ADVERTISEMENT

Sekretaris Perusahaan Surya Esa Perkasa (ESSA) Shinta DU Siringoringo mengatakan, harga amoniak global telah mencapai titik terendah pada Mei 2023 dan menunjukkan tren kenaikan bertahap sejak Juni.

“Dengan adanya kebangkitan permintaan komoditas di Tiongkok, perbaikan harga pupuk global, serta negara di Eropa yang terus berada di bawah tekanan harga gas yang fluktuatif dan tinggi, ESSA memperkirakan harga Amoniak akan kembali ke tingkat yang lebih sehat di semester II-2023,” papar Shinta dalam keterangan resmi, Sabtu (30/7/2023).

Dilihat dari total aset, perseroan terpantau masih memiliki sumber kekayaan sebanyak US$ 771,23 juta per 30 Juni 2023, berkurang dari US$ 831,29 juta pada akhir 2022.

Pada perbandingan periode yang serupa, Surya Esa Perkasa masih membukukan tanggung jawab keuangan (liabilitas) senilai total US$ 233,71 juta. Jumlah liabilitas ini turun dari posisi 31 Desember 2022 yang sebanyak US$ 305,93 juta.

“Penurunan tersebut disebabkan pelunasan pinjaman bank PT Panca Amara Utama (PAU) yang merupakan entitas anak perseroan. Saldo utang menurun dari US$ 268,7 juta menjadi US$ 205,1 juta. Pelunasan dimungkinkan karena posisi kas PAU  yang kuat dan akan membantu perseroan mengurangi beban bunga di kemudian hari,” jelas Shinta.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia