Jumat, 15 Mei 2026

Harga Batu Bara Lagi-Lagi Padam, Dipicu Sentimen Ini

Penulis : Indah Handayani
1 Aug 2023 | 05:00 WIB
BAGIKAN
ilustrasi batu bara
ilustrasi batu bara

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara lagi-lagi padam pada perdagangan Senin (31/7/2023). Melanjutkan pelemahan yang terjadi pada akhir pekan lalu, Jumat (28/7/2023). Dipicu sentimen di negara produsen dan konsumen utama, yaitu Tiongkok dan India. Serta, ancaman badai El Nino dan situasi di pasar energi lain terutama gas alam.

Pada Senin (31/7/2023), harga batu bara Newcastle untuk kontrak berjangka Agustus 2023 jatuh US$ 2,20 menjadi US$ 137,30 per ton. Sedangkan kontrak berjangka September 2023 melorot US$ 1,35 menjadi US$ 140,90 per ton. Sedangkan kontrak berjangka Oktober 2023 anjlok US$ 3,30 menjadi US$ 144,70 per ton.

Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak berjangka Agustus 2023 terkoreksi U$S 1,25 menjadi US$ 105,25. Sementara itu, kontrak berjangka September 2023 berkurang U$S 0,75 menjadi US$ 107,50. Serta, kontrak berjangka Oktober 2023 melemah U$S 1,10 menjadi US$ 110,60.

ADVERTISEMENT

Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga batu bara bergerak melandai dalam kisaran sempit pada pekan ini. Hal ini akan dipicu oleh sentimen di negara produsen dan konsumen utama, yaitu Tiongkok dan India, ancaman badai El Nino dan situasi di pasar energi lain terutama gas alam.

“Harga batu bara pekan ini diperkirakan akan bergerak menyentuh level resistance di kisaran harga US$ 145 – 155 per ton. Jika mendapat katalis negatif, berpotensi turun menuju level support di kisaran harga US$ 125 – 115 per ton,” ungkapnya kepada Investor Daily, belum lama ini.

Yoga menyebutkan, permintaan Tiongkok memang berpotensi naik, sehingga membuat harga juga ikut terdongkrak naik. “Namun, jika mempertimbangkan situasi di Tiongkok yang saat ini tengah berjuang memulihkan ekonominya, maka permintaan batu bara oleh Tiongkok tidak akan sekuat yang diharapkan,” paparnya. 

Hal ini, lanjut Yoga, ditambah lagi sentimen dari prediksi IEA semester II-2023, diperkirakan penurunan generasi tenaga batu bara global untuk lebih dari membalikkan keuntungan paruh pertama (tahun ini). Meskipun permintaan batu bara global akan tumbuh sekitar 1,5% pada semester I-2023 menjadi total sekitar 4.665 metrik ton (Mt), yang didukung oleh peningkatan pembangkit listrik sebesar 1% dan peningkatan non listrik sebesar 2%.

Menurut Yoga, permintaan pada 2023 mencapai rekor dekati rekor pada 2009 atau sebelum pandemi. Hal ini disebabkan pada paruh pertama tahun ini, India dan Tiongkok meningkatkan pembelian dengan memanfaatkan momentum harga batu bara yang sedang murah. “Sehingga untuk kenaikan permintaan yang dimaksud oleh IEA tersebut lebih menjelaskan situasi permintaan di paruh pertama 2023, bukan proyeksi permintaan di paruh kedua 2023,” jelasnya.  

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 46 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 48 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia