Harga CPO Turun Lima Hari Beruntun, Terseret Pelemahan Minyak Kedelai
JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali melemah pada perdagangan Senin (31/7/2023). Dengan demikian, harga CPO turun lima hari beruntun. Terseret pelemahan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOI).
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Senin (31/7/2023), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Agustus 2023 turun 80 Ringgit Malaysia per ton menjadi 3.792 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO pengiriman September 2023 terkoreksi 118 Ringgit Malaysia menjadi 3.852 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO pengiriman Oktober 2023 melemah 128 Ringgit Malaysia menjadi 3.878 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO pengiriman November 2023 kehilangan 126 Ringgit Malaysia menjadi 3.890 Ringgit Malaysia per ton.
Sedangkan kontrak berjangka pengiriman CPO Desember terkoreksi melemah 121 Ringgit Malaysia menjadi 3.904 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO pengiriman Januari 2024 jatuh 115 Ringgit Malaysia menjadi 3.926 Ringgit Malaysia per ton.
Trader minyak sawit David Ng mengatakan, harga CPO melanjutkan tren penurunan hingga berakhir lebih rendah untuk hari perdagangan kelima berturut-turut. Sejalan dengan pelemahan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBoT). Hal itu ditambah lagi, kekhawatiran atas kenaikan produksi di dalam negeri Malaysia juga membebani harga CPO.
“Dengan demikian, kami melihat support di 3.700 Ringgit Malaysia per ton dan resistance di 4.100 Ringgit Malaysia per ton,” katanya dikutip dari Bernama.
Hal senada diungkapkan Kepala Riset Komoditas Sunvin Group Anilkumar Bagani. Ia mengatakan harga yang turun tajam dalam kontrak minyak nabati di pasar seperti CBOT dan Dalian Commodity Exchange selama jam Asia telah mempengaruhi pelemahan di CPO.
Menurut Bagani, pasar tampaknya bereaksi lebih dari yang seharusnya terhadap konflik Rusia-Ukraina. Bahkan, keuntungan besar pada pekan lalu sedang terkoreksi saat ini.
“Minyak sawit juga dipaksa turun untuk mempertahankan selera permintaan baru dari pasar tujuan karena minyak nabati, terutama minyak kedelai dan minyak rapeseed dari tertinggi baru-baru ini," katanya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






