Penggalangan Dana di Pasar Modal Tembus Rp 164,9 Triliun
JAKARTA, investor.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, penggalangan dana di pasar modal melalui efek bersifat utang (EBUS), rights issue, dan pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) hingga 11 Agustus 2023 tembus Rp 164,9 triliun. Angka tersebut masih bakal terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perusahaan berencana menggalang dana di pasar modal yang ada dalam pipeline BEI.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, angka itu terdiri dari 70 emisi dari 49 penerbit EBUS dengan dana yang dihimpun sebesar Rp 79,6 triliun. Ada pula rights issue sebanyak 26 perusahaan tercatat senilai Rp 36,1 triliun. “Ditambah lagi, sebanyak 63 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI dengan dana dihimpun Rp 49,2 triliun,” ungkap Nyoman Yetna, Sabtu (12/8/2023).
Nyoman Yetna menambahkan, di pipeline BEI masih ada sejumlah rencana penggalangan dana, baik melalui EBUS, rights issue, dan IPO. Untuk EBUS, terdapat 15 emisi dari 9 penerbit yang sedang berada di pipeline. Dengan klasifikasi yaitu dua perusahaan sektor barang baku, dua perusahaan sektor energi, tiga sektor keuangan, dan dua perusahaan sektor industri.
Sedangkan untuk pipeline penggalangan dana lewat rights issue, Nyoman Yetna menjelaskan masih terdapat 24 perusahaan tercatat. Dengan rincian sektor adalah satu perusahaan barang baku, delapan perusahaan sektor konsumen non primer, empat perusahaan sektor konsumen primer.
“Ada pula empat perusahaan sektor energi, lima perusahaan sektor keuangan, satu sektor infrastruktur, dan satu perusahaan sektor transportasi & logistic,” jelas Nyoman Yetna.
Sementara itu, Nyoman Yetna menyebut, saat ini terdapat 27 perusahaan dalam pipeline IPO BEI. Berdasarkan klasifikasi aset perusahaan sebanyak 16 perusahaan aset skala menengah, yaitu aset antara Rp 50 – 250 miliar, tercatat dalam data pipeline IPO BEI. Disusul tujuh perusahaan aset skala besar atau aset di atas Rp 250 miliar, dan empat perusahaan aset skala kecil atau aset dibawah Rp 50 miliar.
“Sedangkan secara sektor, sektor konsumen primer mendominasi pipeline IPO, sebanyak tujuh perusahaan,” ungkap Nyoman Yetna, belum lama ini.
Nyoman Yetna menambahkan, sektor terbanyak kedua adalah konsumen non primer sebanyak enam perusahaan. Disusul tiga dari sektor Kesehatan dan empat sektor yang tercatat dua perusahan dalam pipeline BEI, yiatu sektor barang baku, energi, teknologi, dan transportasi & logistic. “Sementara sektor infrastruktur, infrastruktur dan properti masing-masing satu perusahaan yang ada di pipeline IPO BEI,” tutup Nyoman Yetna.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






