Jumat, 15 Mei 2026

Harita Nickel Masih Bisa Untung Gede di 2023, Ini Rahasianya

Penulis : Harso Kurniawan
14 Aug 2023 | 06:00 WIB
BAGIKAN
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel). (Foto: Perseroan)
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel). (Foto: Perseroan)

Jakarta, Investor.id – PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel menggenjot penjualan feronikel di tengah tren penurunan harga nikel di pasar internasional. Sejalan dengan itu, analis mengeluarkan prediksi laba bersih Harita Nickel naik 28% menjadi Rp 5,99 triliun tahun 2023, dibandingkan tahun lalu Rp 4,6 triliun.

Semester I-2023, berdasarkan riset CGS-CIMB Sekuritas, dikutip Minggu (13/8/2023), laba bersih pemain nikel terintegrasi ini turun 14,6% menjadi Rp 2,7 triliun. Namun, kuartal II-2023, laba bersih secara kuartalan stagnan di saat harga feronikel ambles. 

Jika laba bersih lain-lain dikeluarkan, laba bersih Harita Nickel naik 5% secara kuartalan. Ini ditopang oleh lonjakan penjualan anak usaha PT Halmahera Jaya Feronikel (HFJ) yang melejit 97% secara kuartalan.

ADVERTISEMENT

“Selain itu, biaya produksi feronikel HFJ turun, seiring terpangkasnya harga batu bara dan bijih nikel sebagai bahan baku,” tulis CGS CIMB.

Dari keterangan manajemen Harita Nickel saat penjelasan laba bersih semester I-2023, biaya produksi HFJ terus turun sampai Juni 2023. Tren ini akan terus berlanjut, menyusul melorotnya harga batu bara.

“Dalam pandangan kami, ini akan membuka peluang konsensus analis Bloomberg untuk merevisi naik proyeksi laba bersih Harita Nickel, kendati harga nickel pig iron (NPI) kini mencapai US$ 13 ribu per ton,” tulis broker itu.

CGS CIMB merevisi naik laba bersih Harita Nickel tahun 2023 menjadiRp 5,99 triliun dari sebelumnya Rp 5,4 triliun, sedangkan 2024 naik dari Rp 8,2 triliun menjadi Rp 8 triliun. Namun, proyeksi pendapatan Harita Nickel tahun ini diturunkan menjadi Rp 22,2 triliun dari Rp 22,4 triliun, sedangkan 2024 dikoreksi turun dari Rp 32,1 triliun menjadi Rp 29,9 triliun.

Selain memproduksi feronikel lewat HFJ dan PT Megah Surya Pertiwi, Harita Nickel memegang 45,1% saham Halmahera Persada Lygend, yang memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP), produk nikel antara yang bisa diolah menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat, prekursor katoda baterai mobil listrik.

CGS CIMB mempertahankan rekomendasi add saham NCKL, dengan target harga Rp 1.220, naik dari sebelumnya Rp 1.200, dibandingkan harga terakhir Rp 920.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 43 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 45 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia