Imbal Hasil SUN Pekan Ini Bakal Turun
JAKARTA, investor.id - Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) pekan ini ditengarai bakal mulai menurun. Hal ini sejalan dengan melandainya risiko dari credit rating grades dan tingkat inflasi Indonesia yang terjaga di level rendah.
Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana mengekspektasikan penurunan yield di pasar SUN pekan ini akan dipengaruhi oleh dua faktor tersebut. Pasalnya, ketika risiko credit rating grades menurun dan inflasi lebih rendah dari perkiraan, maka hal tersebut akan memberikan sentimen positif bagi yield global dan domestik.
Dengan begitu, harapannya akan memperkuat harga SUN. "Tapi, ini tergantung pada data Indonesia juga. Karena Selasa besok ada data trade balance. Kalau data trade balance itu bagus, maka akan bisa membuat Rupiah terjaga dan yield SUN lebih rendah lagi," jelas Fikri kepada Investor Daily, Minggu (13/8).
Sambil menunggu rilis data perdagangan, faktor rilis PDB dan data APBN Juli yang surplus Rp 157 triliun juga diyakini Fikri, masih akan berpengaruh positif bagi pasar SUN. "Jadi, saya berharap, khusus untuk yield SUN tenor 10 tahun akan berkisar di antara 6,1-6,2% karena kondisi fiskal yang masih positif hingga Juli 2023," imbuhnya.
Adapun mendekati tahun-tahun politik, Fikri mencermati market masih wait and see paling tidak sampai Oktober mendatang. Ini tercermin dari pergerakan yield yang konsisten di kisaran 6,0%-6,2%. Artinya, market tengah meraba-raba mengenai postur dan arah fiskal ke depan.
Baru, pada saat mendekati akhir pendaftaran presiden nanti, akan muncul berbagai kejutan besar di market.
Karena itu, sejauh ini Fikri melihat, baik pasar saham maupun SUN, keduanya masih seimbang dengan potensi upside yang hampir sama besar. "Kalau untuk SUN, kita lihat kondiai fiskal seperti apa dan arah kebijakan seperti apa. Tapi, kalau IHSG perlu kita lihat adalah dorongan politiknya seperti apa," tuturnya.
Begitu juga dengan pergerkan capital inflow di pasar SUN dan IHSG. "Sampai sekarang, aliran dana asing di pasar SUN sudah mencapai sekitar Rp 90 triliun. Sedangkan, IHSG baru Rp 22 triliun. Ini memperlihatkan, volatilitas masih tinggi secara global dan domestik," tutup Fikri.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






