Hold Saham PTBA dan TINS, Buy ANTM
JAKARTA, investor.id – Gabungan laba bersih sejumlah emiten yang tergabung dalam MIND ID anjlok 46,58% menjadi Rp 4,08 triliun pada semester I-2023 dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 8,76 triliun. Apa pemicu utama dan bagaimana rekomendasi sahamnya?
Pada semester I-2023, PT Timah Tbk (TINS) melaporkan penurunan laba bersih yang tajam hingga 98,49%. Sedangkan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat penurunan laba bersih sebesar 54,92%. Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam mampu membukukan kenaikan laba bersih 23,84%.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS, Fina Eliani mengatakan bahwa laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk perseroan pada paruh pertama 2023 turun 98,49% menjadi Rp 16,29 miliar dibanding periode sama tahun lalu Rp 1,08 triliun. Anjloknya laba bersih tersebut sejalan dengan penurunan pendapatan perseroan sebanyak 39,9% dari Rp 7,47 triliun menjadi Rp 4,57 triliun. Penurunan pendapatan itu dipengaruhi merosotnya harga komoditas logam timah dunia.
“Penurunan sebagian harga logam pada akhir semester I-2023 di tengah permintaan global yang lemah dan peningkatan persediaan logam timah di gudang LME mengakibatkan harga logam timah bergerak fluktuatif cenderung menurun,” kata Fina dalam keterangannya, baru-baru ini.
Di tengah fluktuasi harga, lanjut dia, TINS mencatatkan volume penjualan sebanyak 8.307 metrik ton sampai 30 Juni 2023. “Kondisi harga jual rerata logam timah dan cuaca yang belum mendukung sampai semester I-2023 masih menjadi penyebab penurunan produksi timah yang menggerus laba bersih perseroan,” ujar Fina.
Emiten anggota MIND ID lainnya, yakni PTBA juga mencatatkan penurunan laba bersih hingga 54,91% menjadi Rp 2,77 triliun pada semester I-2023 dibanding periode sama tahun lalu Rp 6,15 triliun. Adapun pendapatan PTBA naik 2,36% menjadi Rp 18,85 triliun dari Rp 18,42 triliun.
Pendapatan tersebut berasal dari total penjualan dan produksi batu bara perseroan, yang masing-masing naik 19% dan 18% (yoy) pada semester I-2023 menjadi 17,4 juta ton dan 18,8 juta ton. Di paruh pertama tahun ini, PTBA mencatatkan penjualan ekspor sebanyak 7,1 juta ton, naik 37% (yoy). Realisasi domestic market obligation (DMO) tercatat sebesar 57%.
Sekretaris Perusahaan PTBA Niko Chandra menjelaskan, berbagai hal menjadi tantangan bagi perseroan tahun ini, antara lain koreksi harga batu bara dan fluktuasi pasar. Harga batu bara ICI-3 turun 48% dari US$ 138,5 per ton pada Juni 2022 menjadi US$ 72,63 per ton pada Juni 2023.
Di sisi lain, harga pokok penjualan naik, di antaranya komponen biaya royalti, angkutan kereta api, dan jasa penambangan. “Karena itu, PTBA terus berupaya memaksimalkan potensi pasar dalam negeri, serta peluang ekspor untuk mempertahankan kinerja positif,” ujar Niko.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Berbeda dengan dua BUMN pertambangan tersebut, Antam menjadi satu-satunya anggota MIND ID yang mencatatkan kenaikan laba bersih. Perusahaan mencetak laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,88 triliun atau naik 24% (yoy) pada semester I tahun ini.
“Volatilitas harga jual feronikel yang dipengaruhi tingkat suplai dan demand nikel kelas-2 di pasar memengaruhi kinerja keuangan perusahaan pada semester I-2023. Di tengah kondisi tersebut, kami terus mengoptimalkan kinerja produksi dan penjualan bijih nikel, emas, dan bauksit,” ungkap Sekretaris Perusahaan Antam Syarif Faisal Alkadrie.
Dalam enam bulan pertama yang berakhir pada 30 Juni 2023, emiten berkode saham ANTM tersebut mencetak penjualan bersih Rp 21,66 triliun atau naik 15% (yoy). Penjualan domestik menjadi penyumbang capaian yang dominan sebesar Rp 18,48 triliun atau 85% dari total penjualan bersih semester I-2023.
Mengamati kinerja emiten-emiten tersebut, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan merekomendasikan pemodal untuk hold saham PTBA. Target harga Rp 2.875 telah terlampaui. Posisi terakhir PTBA di Rp 2.880.
Dia melihat beberapa perbaikan setiap kuartal pada PTBA, yang didukung penurunan biaya tunai berkat penurunan tarif royalti, meski laba bersih perseroan berada di bawah ekspektasi konsensus pada semester pertama.
Secara terpisah, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta menyarankan investor untuk akumulasi (buy) saham ANTM dan hold saham TINS. Kedua saham tersebut diprediksi masing-masing menyentuh harga Rp 2.160 dan Rp 990 dalam jangka pendek maupun menengah. Posisi terakhir ANTM dan TINS masing-masing di harga Rp 1.955 dan Rp 890.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






