Jumat, 15 Mei 2026

Dibayangi The Fed, Imbal Hasil SUN Tetap Tinggi

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
4 Sep 2023 | 04:30 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi  (B Universe Photo/David Gita Roza)
Ilustrasi (B Universe Photo/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) pekan ini diproyeksikan masih tinggi. Imbas langkah spekulatif pasar menjelang rapat The Fed yang diperkirakan menahan suku bunga dalam waktu dekat.

Analyst Fixed Income Ahmad Nasrudin menjelaskan, pergerakan yield SUN pekan depan nampaknya masih enggan untuk turun, lantaran aktivitas spekulatif yang meningkat di pasar menjelang rapat The Fed. Pasar akan mulai berspekulasi tentang hasil rapat dan mem-price in langkah berikutnya oleh the Fed.

“Langkah pengetatan lanjutan atau mempertahankan suku bunga dalam waktu yang lebih lama bisa berdampak negatif ke pasar dalam negeri mengingat spread suku bunga dalam negeri dengan AS berada pada level tersempit sepanjang sejarah,” jelasnya kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

ADVERTISEMENT

Apalagi, lanjutnya, rupiah juga berada di bawah tekanan setelah surplus neraca dagang mulai menurun. Situasi ini memungkinkan asing relatif menghindari pasar dalam negeri dalam waktu dekat, kecuali jika para investor berorientasi jangka panjang. Sehingga, kondisi pasar obligasi pekan ini lebih volatil. “Saya memperkirakan yield 10 akan bergerak di kisaran 6,1% hingga 6,5%,” ujar dia.

Ahmad melanjutkan, selain dari global, ada beberapa rilis data ekonomi domestik yang berpotensi pengaruhi kinerja pasar SUN. Diantaranya rilis cadangan devisa Agustus yang segera rilis pekan ini. Dari data tersebut pasar akan mencermati seberapa kuat cadangan devisa domestik selama tekanan rupiah dalam beberapa minggu terakhir.

“Penurunan yang tajam menjadi sentimen negatif karena otoritas memerlukan langkah yang nyata untuk mempertahankan rupiah dari tekanan,” kata dia.

Selain itu, Ahmad menambahkan, rilis data survei konsumen juga jadi cermatan investor. Data tersebut mencerminkan kinerja sektor riil dan pertumbuhan ekonomi yang berimplikasi pada prospek pasar saham. Meski demikian, pasar saham dalam beberapa bulan terakhir telah menjadi buffer ketika asing melepas kepemilikan mereka di pasar SUN yang tercermin dari kemampuan asing melakukan net buy ke pasar saham.

“Kepercayaan konsumen yang tangguh akan berimplikasi positif bagi kinerja pasar saham,” tegasnya.

Pada Selasa (5/9/2023), pemerintah akan melakukan lelang Surat  Berharga Syariah Negara (SBSN). Sebanyak tujuh seri yang akan masuk dalam lelang tersebut dengan target indikatif Rp 14 triliun dan maksimal Rp 21 triliun.

Ahmad memproyeksikan, pasar masih antusias karena pasokan lelang yang mulai berkurang menjelang akhir tahun atau akhir siklus anggaran dan rencana pemerintah untuk mengurangi penerbitan. Sehingga, lelang pekan depan masih akan oversubscribe. “Hanya saja, saya memperkirakan investor akan meminta premi yang lebih tinggi. Mereka melihat risiko sedikit meningkat dengan kondisi suku bunga AS dan domestik saat ini. Ditambah lagi dengan nilai tukar,” kata dia.

Ahmad menjelaskan, oversubscribe akan didukung oleh permintaan domestik yang solid. Selain itu, SUN tetap menjadi pilihan di tengah ketidakpastian saat ini. Peringkat sovereign yang stabil juga menjadi faktor penarik. Jika investor memegang hingga jatuh tempo, saat ini menjadi momen untuk mendapatkan kupon tinggi.

“Dengan kondisi ini, investor masih akan memburu SUN, apalagi pasokan barunya lebih sedikit seiring dengan rencana pemerintah untuk memangkas penerbitan karena surplus anggaran di semester pertama,” lanjutnya.

Ahmad menambahkan, dengan asumsi bid-to-cover ratio dilelang pekan depan akan berada di kisaran 2 - 4,5 kali, total penawaran yang masuk kali ini berada di kisaran Rp 28 – Rp60 triliun dengan total yang dimenangkan diperkirakan sebesar Rp 14 triliun. Soal serinya, seri jangka panjang masih jadi primadona di tengah tingkat inflasi domestik yang terus menurun ke level target.

“Sehingga, ada lebih banyak ekspektasi tentang pelonggaran kebijakan moneter ke depan. Kondisi ini membuat tenor jangka panjang lebih menarik daripada jangka pendek,” pungkasnya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 41 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 43 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia