Jumat, 15 Mei 2026

Harga SUN Tertekan Gara-gara Bejibun Sentimen

Penulis : Zsazya Senorita / Muhammad Ghafur Fadillah
11 Sep 2023 | 04:30 WIB
BAGIKAN
ilustrasi (B Universe Photo/David Gita Roza)
ilustrasi (B Universe Photo/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - Harga Surat Utang Negara (SUN) dalam jangka pendek juga diprediksi tertekan dengan imbal hasil (yield) 10 tahun bisa naik ke arah 6,63% pekan ini. Gara-gara bejibun sentimen yang akan mempengaruhi. Mulai dari data hasil lelang SUN pada Selasa (12/3/2023), neraca perdagangan periode Agustus, hingga rilis inflasi AS.

Data inflasi AS diproyeksi naik dari 3,2% ke 3,6%, yang akan meningkatkan probabilitas kenaikan Fed Fund Rate (FFR) pada September. Sehingga, mendorong yield US Treasury naik. Begitu pula dengan yield SUN.

“Mungkin itu akan menjadi tekanan yang cukup besar pada pekan ini,” jelas Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana kepada Investor Daily.

ADVERTISEMENT

Dia menyebutkan, hasil survei kenaikan FFR sebesar 25 basis points (bps) pada September 2023, bisa meningkat dari 43% menjadi lebih dari 50% dalam konsensus. Kenaikan suku bunga acuan akibat peningkatan inflasi ini dipercaya mengerek yield US Treasury, serta indeks dolar AS.

Kenaikan indeks dolar AS pun dapat menekan nilai tukar rupiah, sekaligus mendorong naik yield SUN. “Kemungkinan rupiah terdepresiasi, dan yield SUN akan naik,” imbuh Fikri.

Dengan kemungkinan yield US Treasury naik, dia meyakini kepemilikan obligasi jenis ini akan berkurang, dan pelaku pasar berpindah ke USD karena indeksnya naik. Di sisi lain, kepemilikan SUN Indonesia oleh investor asing juga diperkirakan berkurang lagi pekan ini akibat yield yang naik atau harga menurun.

Sampai 5 September 2023, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mencatat, kepemilikan SUN oleh asing masih sekitar 18,65% atau Rp 832,18 triliun. Sedangkan SUN yang dimiliki pemerintah dan bank sentral negara asing ada sekitar 5,1% atau Rp 227,65 triliun.

Fikri pun meyakini, kepemilikan SUN di Indonesia masih akan didominasi oleh pemodal domestik. Sedangkan yield SUN 10 tahun hingga akhir Desember mendatang masih bisa turun sampai 6,0%.

Optimisme tersebut dilatarbelakangi ekspektasi penurunan BI7DRR, yang bisa ikut mendorong turun yield SUN dan mengerek naik harganya. Apalagi, sambung Fikri, saat ini inflasi Indonesia masih di level 3,2% sehingga dapat menjadi peluang Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat suku bunga lebih cepat.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 39 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia