Jumat, 15 Mei 2026

Indika Energy (INDY) Beri Sinyal Divestasi Lagi

Penulis : Zsazya Senorita
17 Okt 2023 | 07:00 WIB
BAGIKAN

JAKARTA, invetsor.id - PT Indika Energy Tbk (INDY) memberi sinyal untuk kembali melepas atau melakukan divestasi atas aset yang berhubungan dengan energi fosil seperti batu bara. Hal ini seiring target perseroan untuk meningkatkan kontribusi pendapatan dari bisnis nonbatu bara menjadi 50% pada 2025. Sementara hingga pertengahan 2023, kontribusi batu bara masih mencapai 82,03% terhadap total pendapatan Indika Energy.

Emiten bersandi INDY tersebut sebelumnya telah melakukan divestasi kepemilikan di tiga anak usaha, yakni PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU).

“Target kami di 2025 (kontribusi pendapatan) sudah balance, 50:50. Semua mesti kami explore,” kata Vice President Director dan Group CEO Indika Energy Azis Armand di Jakarta, baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan laporan keuangan Indika Energy, dari total pendapatan sepanjang semester I-2023 yang sebesar US$ 1,67 miliar, sebanyak 82,03% atau US$ 1,3 miliar berasal dari penjualan batu bara. Sisanya dikontribusi dari pendapatan kontrak dan jasa sebesar US$ 156,84 juta, serta perdagangan lainnya US$ 137,5 juta.

Sedangkan pendapatan dari segmen operasi bisnis hijau baru sekitar US$ 7,66 juta sepanjang Januari-Juni 2023, atau setara 0,45% dari total pendapatan periode tersebut. Pendapatan perusahaan dari sektor nonbatu bara juga berasal dari bisnis ventura digital yang mencatatkan pemasukan US$ 4,08 juta enam bulan pertama tahun ini.

Direktur Utama Indika Energy (INDY) Arsjad Rasjid sebelumnya telah menegaskan komitmen perusahaan untuk menemukan solusi atas masalah mendesak, seperti dampak iklim hingga ketahanan energi. “Di Indika Energy, ini adalah masalah yang sudah tidak asing lagi. Inilah yang mendorong transisi kami, yang berpusat pada dua hal penting. Menghasilkan setidaknya 50% pendapatan kami dari sektor nonbatu bara pada 2025 dan mencapai netral emisi karbon pada 2050,” kata Arsjad dikutip dari laporan keberlanjutan perusahaan.

Inti dari transisi ambisius Indika, meliputi diversifikasi, dekarbonisasi, dan divestasi. Arsjad menyebut, ketiganya merupakan formula dasar untuk tantangan yang sangat kompleks. Manajemen pun menyusun strategi untuk mencapai tujuan tersebut.

Pertama, Indika Energy melakukan diversifikasi ke bisnis rendah karbon. Kedua, mereka melakukan dekarbonisasi operasi untuk mengurangi jejak karbon yang ditimbulkan dari kegiatan bisnis perusahaan. Ketiga, pihaknya melakukan divestasi dari bisnis lama yang berpusat pada batu bara, meskipun sudah lama menjadi pilar inti bisnis perusahaan.

Divestasi Anak Usaha

Pada 2021, Indika Energy melakukan divestasi kepemilikan di PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), penyedia jasa transportasi batu bara. Selanjutnya pada 2022, manajemen menyelesaikan divestasi kepemilikan saham mayoritas di PT Petrosea Tbk (PTRO), penyedia jasa dan teknik pertambangan, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengurangi eksposur perusahaan terhadap bisnis-bisnis tinggi karbon.

Mulai tahun lalu pula, Indika mengambil langkah besar dalam upaya diversifikasi, dekarbonisasi, dan divestasi dengan meluncurkan dua usaha patungan baru di bidang ekosistem kendaraan listrik, yakni PT Electra Mobilitas Indonesia (EMI) dan PT Foxconn Indika Motor (FIM).

“Ini hanyalah beberapa inisiatif transformatif yang akan terus kami lakukan untuk mencapai target di tahun 2025, yaitu memastikan lebih dari setengah pendapatan kami berasal dari bisnis nonbatu bara,” tegas Arsjad lagi.

Terbaru, Indika Energy menyelesaikan divestasi PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU) dari kepemilikan entitas anak, yakni PT Indika Indonesia Resources (IIR) dan Indika Capital Investments Pte. Ltd. (ICI).

Azis Armand menjelaskan, penjualan kepemilikan saham di MUTU adalah bagian dari strategi perseroan sebagai perusahaan investasi dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi. Dia menyebutkan, perseroan akan mengurangi eksposur di bisnis batu bara dan menambah portofolio investasi non-batu bara.

“Perseroan menargetkan untuk mencapai 50% pendapatan dari sektor nonbatu bara pada 2025,” ujar Azis.

Dia menjabarkan, MUTU adalah perusahaan pertambangan bituminous thermal dan coking coal di Kalimantan Tengah yang memegang Perjanjian Karya Pengusaha Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi ketiga dengan area konsesi 24.970 hektare (ha). Perusahaan ini telah menjadi bagian dari Indika Energy Group sejak 2012.

Menurut Azis, MUTU menunjukkan pertumbuhan bisnis yang baik sejak berproduksi pada 2016 dan mencapai profit tertinggi di 2022. “Meski demikian, kami percaya bahwa penjualan saham Indika Energy di MUTU menjadi langkah lainnya dari perusahaan untuk mengurangi eksposur di bisnis batu bara,” jelas Azis Armand.

Saat ditemui di acara Tripatra Sustainable Engineering Summit, dia optimistis bahwa penjualan MUTU tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan INDY tahun ini. Penurunan kontribusi batu bara di Indika Energy juga ditaksir hanya sekitar 1,5 juta ton dari pelepasan MUTU.

“Dari overall revenue atau kemampuan tidak terlalu banyak berbeda. (Penurunan) pasti ada, tetapi tidak signifikan,” imbuh dia.

Manajemen masih belum bisa memberi rincian berapa porsi pendapatan perseroan dari bisnis batu bara dan non-batu bara tahun ini. Namun Azis menekan lagi, target perseroan untuk mendapat pemasukan 50% dari bisnis non-batu bara pada 2025.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 39 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia