Jumat, 15 Mei 2026

Risiko Geopolitik Tinggi, Rupiah Melemah

Penulis : Grace El Dora
19 Okt 2023 | 18:48 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo beserta jajaran pimpinan BI menjelang pengumuman Hasil RDG BI Oktober 2023 di Kantor BI, Jakarta pada 19 Oktober 2023. (Foto: ANTARA/Muhammad Heriyanto)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo beserta jajaran pimpinan BI menjelang pengumuman Hasil RDG BI Oktober 2023 di Kantor BI, Jakarta pada 19 Oktober 2023. (Foto: ANTARA/Muhammad Heriyanto)

JAKARTA, investor.id – Pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi peningkatan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury dan risiko geopolitik perang Israel melawan Hamas.

“(Kondisi geopolitik tersebut memberikan) risiko meningkatnya inflasi akibat kenaikan harga minyak. Akibatnya, investor akan risk off dengan mengalihkan investasi ke aset safe haven,” ungkap Analis Bank Woori Saudara BWS Rully Nova seperti dikutip Antara, Kamis (19/10).

Adapun obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 4,9 basis poin (bps) menjadi 4,896%.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, rupiah melemah juga dipengaruhi kenaikan suku bunga BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) menjadi 6% atau sebesar 0,25 basis poin (bps) dari 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG BI).

Suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility juga naik masing-masing 0,25 bps secara berurutan, bergerak ke level 5,25% dan 6,75%.

“Suku bunga dinaikkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Kenaikan suku bunga akan memberikan dampak signifikan terhadap capital outflow di pasar keuangan Indonesia,” sambung Rully.

Menurut Analis Pasar Mata Uang Lukman Leong, rupiah melemah terhadap dolar AS yang rebound di tengah sentimen risk off di pasar karena pernyataan bernada hawkish dari pejabat The Federal Reserve (The Fed) Christopher J. Waller dan John Williams.

“Weller mengatakan The Fed walau tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan November 2023, namun bisa saja menaikkan suku bunga di pertemuan berikutnya. Sedangkan Willliam melihat suku bunga The Fed akan tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama,” sambungnya.

Pada penutupan perdagangan hari ini, mata uang rupiah melemah sebesar 85 poin atau 0,54% menjadi Rp 15.815 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya sebesar Rp 15.730 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis turut melemah ke posisi Rp 15.838 dari sebelumnya Rp 15.731 per dolar AS.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 17 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia