Kamis, 14 Mei 2026

Bos Garuda (GIAA) Pastikan Merger Citilink dan Pelita Air Tuntas Desember

Penulis : Muawwan Daelami
28 Okt 2023 | 14:00 WIB
BAGIKAN
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra. (B-Universe Photo/David Gita Roza)
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra. (B-Universe Photo/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memastikan penggabungan usaha (merger) anak usahanya, Citilink dengan Pelita Air tuntas pada Desember tahun ini. Perseroan tak ingin proses integrasi sesama maskapai pelat merah tersebut berlarut. 

Direktur Utama Garuda Indonesia (GIAA) Irfan Setiaputra tidak memungkiri bahwa integrasi Citilink dengan Pelita Air ini cukup kompleks karena banyak aspek yang dibahas. Mulai dari legal, keuangan, sampai yang paling terakhir aspek sumber daya manusia (SDM).

Beruntung, merger antara Citilink dan Pelita Air ini mendapat dukungan penuh dari Menteri BUMN Erick Thohir dan Wakil Menteri BUMN I Kartika Wirjoatmodjo. Karena itu, pihaknya mewajibkan proses penggabungan usaha itu rampung Desember tahun ini.

ADVERTISEMENT

“Harus (tuntas). Kami sih berharap harus tuntas Desember ini karena kalau tidak, lama-lama ribet juga. Mudah-mudahan, kami berharap Desember sudah selesai,” beber Irfan saat ditemui di Ice BSD, Tangerang, Jumat (27/10/2023).

Sampai sekarang, tutur Irfan, Garuda Indonesia dalam dua hari sekali intensif menindaklanjuti proses integrasi Citilink dan Pelita Air. Dengan begitu, pada saatnya mulai mengerucut, akan diumumkan bentuk dan skenarionya. “Jadi, kami mau semuanya cari yang terbaik,” imbuhnya.

Di saat bersamaan, bos Garuda Indonesia itu juga meyakini, performa perseroan sepanjang 2023 akan berakhir positif. Sayangnya, dia belum mau menyebutkan secara gamblang profitabilitas yang akan dibukukan perseroan tahun ini.

Kendati demikian, Irfan optimistis, tahun 2023 perseroan bakal mencetak profitabilitas sekalipun angkanya masih menantang. Itulah sebabnya, orang nomor satu di Garuda tersebut enggan membuka prognosis tahun ini begitupun tahun-tahun berikutnya.

Apalagi, kata dia, sebagai perusahaan publik tentu yang perlu mengetahui lebih dulu mengenai prognosis perseroan adalah para pemegang saham. Baru selanjutnya diumumkan melalui keterbukaan informasi. “Jadi, prognosis tahun ini saya belum bisa ngomong termasuk tahun-tahun ke depan,” ujar dia.

Pernyataan Irfan tersebut sekaligus menjawab beredarnya siaran terkait prognosis Garuda Indonesia pada tahun 2023 dan beberapa tahun ke depan. Dalam siaran yang bergulir, disebutkan emiten bersandi GIAA itu diproyeksikan meraup laba sebesar US$ 399 juta atau setara Rp 6,3 triliun pada 2023.

Bahkan, tren positif tersebut diekspektasikan berlanjut hingga tahun-tahun selanjutnya. Misal pada 2024, emiten maskapai pelat merah itu diramal dapat mencatatkan laba sebesar US$ 589 juta, lalu laba pada 2025 sebesar US$ 631 juta, dan pada 2026 sebesar US$ 647 juta.

Walaupun mengaku tak mengetahui persis sumber prognosis yang beredar tersebut, namun Irfan bilang, proyeksi itu merupakan prognosis yang positif karena sesuai dengan proyeksi yang pernah dia sampaikan sewaktu GIAA belum menerima penyertaan modal negara (PMN).

“Saya tidak menafikan (proyeksi tersebut) jejak digitalnya ada semua. Tapi, kok tiba-tiba dikeluarin sekarang. Jadi, ke depan kalau ada sumber diverifikasi dulu. Gara-gara angka itu dikeluarin, babak belur saya. Tapi, sebenarnya santai saja,” ungkap Irfan.

Penumpang Naik 30% 

Menjelang perhelatan pemilihan umum (Pemilu) baik presiden maupun pemilihan lainnya, Irfan juga memastikan, sentimen pemilu bakal berimbas positif kepada performa perseroan. Baginya, sentimen pemilu tak ubahnya seperti sentimen-sentimen peak season lainnya seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta libur Lebaran.

Sehingga di atas kertas, katalis pemilu akan terkombinasi dengan Nataru. “Jadi, kalau saya mau jujur pengaruh pemilu ini ada, tapi bercampur dengan orang liburan dan peak season. Jadi saya bisa ngomong angka berapapun, fakta sebenarnya campuran. Tapi, kami sudah menduga adanya pergerakan peningkatan booking untuk keperluan pemilu,” sebut Irfan.

Karena dapat dibayangkan, intensitas pergerakan penumpang dari daerah-daerah khususnya yang menjadi kantong-kantong suara ke Jakarta akan naik, begitu pula sebaliknya. Biasanya, selama peak season peningkatan penumpang naik sebesar 20% dan jika dikombinasikan dengan pemilu, maka Irfan memperkirakan pertumbuhannya bisa lebih tinggi menjadi 30%.

Adapun tingkat okupansi pesawat saat ini, dikatakan sudah mendekati 80% atau menuju 100%. Bila sudah menuju titik maksimal, perseroan bersiap untuk menambah frekuensi penerbangan. “Jadi, kami tidak mau para pelanggan yang biasa menumpang Garuda, begitu mendapati booking sudah penuh, mereka mesti naik maskapai lain,” ujarnya.

Makanya, menuju peak season, perseroan akan menambah frekuensi penerbangan terutama ke daerah-daerah yang diestimasikan bakal ramai seperti Medan, Surabaya, Bali, Lombok, dan Labuan Bajo.

“Bahkan, yang menjadi isu adalah beberapa daerah destinasi mungkin frekuensi penerbangannya akan kami tambah pada malam hari karena paginya penuh. Misalnya, penerbangan ke Bali dan Singapura,” bisik Irfan. 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 58 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia