Pasar Kripto Lanjut Menguat, Tapi Bitcoin Turun Tipis
JAKARTA, investor.id – Pasar kripto lanjut menguat dalam 24 jam terakhir. Tapi, Bitcoin turun tipis. Begitu pula Ethereum dan Binance yang terkoreksi.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Senin pagi (13/11/2023) pukul 06.54 WIB, kapitalisasi pasar kripto global menguat 0,45% menjadi di US$ 1,41 triliun dalam 24 jam. Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) justru turun 0,11% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga Bitcoin di level US$ 37.056,32 per koin atau setara Rp 581,56 juta (Kurs, Rp 15.694).
Pelemahan juga terjadi pada Ethereum (ETH) yang turun 0,34% dalam 24 jam. Sehingga ETH dibanderol dengan harga US$ 2.045,03 per koin. Hal serupa juga terjadi pada Binance (BNB) terkoreksi 1,47% dalam sehari terakhir. Dengan begitu, saat ini BNB berada di level US$ 247,70 per koin.
Dikutip dari Cryptonews, Setelah sempat turun di bawah level $37 ribu pada akhir Sabtu, harga Bitcoin (BTC) telah pulih kembali ke level terendah US$37 ribu. Meskipun mengalami kemunduran, Bitcoin tetap berada di jalur untuk menutup minggu lalu dengan kenaikan yang solid di kisaran 6%.
Bitcoin telah berkinerja baik dalam beberapa minggu terakhir di tengah optimisme bahwa Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) akan menyetujui beberapa spot Bitcoin Exchange Traded Fund (ETF). Aplikasi di AS, membuka pintu bagi gelombang arus masuk institusional ke pasar Bitcoin.
Selama optimisme terhadap ETF Bitcoin spot yang akan datang tetap tinggi dan berkembang, pasar kemungkinan besar akan tetap berada dalam tren naik jangka pendek hingga menengah. Sentimen makro juga berperan sebagai pendorong pada bulan ini dengan imbal hasil obligasi AS yang jauh lebih rendah dan harga saham AS yang jauh lebih tinggi di tengah harapan bahwa siklus pengetatan The Fed telah berakhir.
Namun data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada pekan ini akan mengancam tren positif makro. Jika data tersebut lebih tinggi dari perkiraan dan mendukung argumen bahwa banyak pembuat kebijakan di The Fed masih menyatakan bahwa suku bunga yang lebih tinggi mungkin masih diperlukan untuk menjinakkan inflasi AS dengan baik.
Kejutan inflasi yang naik dapat memicu kemunduran jangka pendek di pasar Bitcoin. Namun, setiap penurunan kembali ke support utama jangka panjang di US$ 34 ribu mungkin dilihat oleh kenaikan Bitcoin jangka panjang sebagai area yang bagus untuk mulai menambah posisi mereka secara agresif.
Hal ini karena Bitcoin sebagian besar kebal terhadap perkembangan makro negatif dalam beberapa bulan terakhir. Contohnya pada Oktober, ketika Bitcoin menguat hampir 30% pasar saham AS malah mengalami penurunan karena imbal hasil obligasi AS mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






