Harga CPO Lagi-Lagi Menguat, Didukung Penguatan Minyak Kedelai
JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) lagi-lagi menguat pada Rabu (15/11/2023). Memperpanjang kenaikan selama tiga hari beruntun. Didukung penguatan harga minyak kedelai di Chicago dan Dalian.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Rabu (15/11/2023), kontrak berjangka CPO untuk November 2023 menguat 41 Ringgit Malaysia menjadi 3.800 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Desember 2023 naik 73 Ringgit Malaysia menjadi 3.898 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO Januari 2024 melesat 74 Ringgit Malaysia menjadi 3.978 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Februari 2024 bertambah 75 Ringgit Malaysia menjadi 4.018 Ringgit Malaysia per ton.
Sedangkan kontrak berjangka CPO Maret 2024 terkerek 71 Ringgit Malaysia menjadi 4.034 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO April 2024 naik 70 Ringgit Malaysia menjadi 4.028 Ringgit Malaysia per ton.
“Minyak saingan (minyak kedelai) yang kuat mengangkat patokan acuan (CPO),” kata seorang analis yang berbasis di Kuala Lumpur dikutip dari Hellenicshippingnews.
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 naik 0,45%. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian, DBYcv1, naik 2,17%, sedangkan kontrak minyak sawit DCPcv1 meningkat 3,08%.
Harga kedelai berdampak pada harga minyak kedelai, yang bersaing dengan minyak sawit untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global.
Tidak hanya itu, Malaysia yakin ekspor minyak sawit dan produk terkaitnya ke China akan semakin meningkat pada tahun ini. Negara ini mengirimkan komoditas dan produk terkait senilai US$ 3,72 miliar tahun lalu ke China.
Menurut perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri, ekspor produk minyak sawit Malaysia antara 1-15 November naik 6,4% menjadi 645.590 ton dari 606.980 ton yang dikirimkan pada 1-15 Oktober.
Sementara itu, Cargo surveyor Societe Generale de Surveillance (SGS) memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1-15 November sebesar 602.510 metrik ton.
Impor minyak sawit dan minyak bunga matahari di India pada 2022 dan 2023 masing-masing melonjak sebesar 24% dan 54%, mencapai rekor tertinggi, dibantu oleh peningkatan konsumsi dan diskon besar pada harga kedua minyak tersebut dibandingkan dengan minyak kedelai saingannya.
Ringgit Malaysia, mata uang perdagangan sawit, menguat 1,1% terhadap dolar. Melemahnya ringgit membuat minyak sawit lebih menarik bagi pemegang mata uang asing.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






