Jumat, 15 Mei 2026

Saham Astra (ASII) Lagi Murah, Dividen Besar Menanti

Penulis : Thresa Sandra Desfika
1 Apr 2024 | 08:20 WIB
BAGIKAN
PT Astra International Tbk (ASII). (Foto: Astra)
PT Astra International Tbk (ASII). (Foto: Astra)

JAKARTA, investor.id - Saham PT Astra International Tbk (ASII) diparkir memerah 2,37% ke Rp 5.150 pada perdagangan 28 Maret 2024. Sejumlah 107,12 juta saham ditransaksikan, frekuensi 21.067 kali, dan nilai transaksi Rp 552,89 miliar.

Pada perdagangan pekan lalu, yakni 25-28 Maret, saham ASII selalu ditutup memerah. Berbanding terbalik dengan perdagangan pada pekan sebelumnya, 18-22 Maret, yang mayoritas menghijau dan hanya sekali merah pada 18 Maret. Dalam periode year to date (ytd), saham Astra melemah 9,65%.

Astra sendiri akan menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 30 April 2024. Dalam keterangan resmi ASII sebelumnya, disebutkan bahwa akan diusulkan dividen final untuk tahun buku 2023.

ADVERTISEMENT

Besaran dividen final yang diusulkan adalah sebesar Rp 421 per saham (2022: Rp 552 per saham).

Dividen final yang akan diusulkan tersebut, bersama dengan dividen interim sebesar Rp 98 per saham (2022: Rp 88 per saham) yang sudah dibagikan pada Oktober 2023, akan menjadikan total dividen yang diusulkan untuk tahun 2023 menjadi Rp 519 per saham (2022: Rp 640 per saham), dengan rasio pembayaran dividen sebesar 62% (berdasarkan laba bersih Grup Astra sebesar Rp 34 triliun, tidak termasuk penyesuaian nilai wajar atas investasi di GOTO dan Hermina). Rasio tersebut lebih tinggi dari rata-rata rasio pembayaran dividen historis perseroan.

Dengan mengacu pada harga saham Astra per penutupan 28 Maret, maka kisaran yield dividen final (Rp 421/saham) ada di angka 8,17%.

Kinerja

Sementara itu, pendapatan bersih konsolidasian PT Astra International Tbk (ASII) pada tahun 2023 adalah sebesar Rp 316,6 triliun, meningkat 5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Laba bersih ASII, tidak termasuk penyesuaian nilai wajar atas investasi grup di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), mencapai laba bersih tertinggi sebesar Rp 34 triliun, 12% lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022.

Jika penyesuaian nilai wajar tersebut diperhitungkan, maka laba bersih Astra (ASII) meningkat 17% menjadi Rp 33,8 triliun.

Pertumbuhan pendapatan emiten berkode saham ASII tersebut terutama didorong oleh segmen otomotif serta segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi (heavy equipment, mining, construction, & energy/HEMCE), dengan peningkatan masing-masing sebesar 6,4% (yoy) dan 4,1% (yoy).

“Adapun peningkatan laba bersih ASII dipimpin oleh segmen otomotif yang tumbuh 14,8% (yoy), jasa keuangan tumbuh 29,7% (yoy), dan segmen lainnya kecuali CPO dan HEMCE tumbuh 41% (yoy),” tulis analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Christopher Rusli dalam risetnya, sebagaimana diberitakan pada 5 Maret 2024.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia bersiap menawarkan insentif untuk kendaraan listrik hibrid (HEV) agar sejalan dengan fasilitas kendaraan listrik baterai (BEV) guna meningkatkan kinerja penjualan otomotif yang lesu pada Januari 2024, terpangkas 26,1% (yoy).

Penjualan otomotif pada Januari 2024 melambat menjadi 69.619 unit, turun 26,1% (yoy) atau 18,4% (qoq). “Tahun ini, ASII perlu memproduksi model 4W baru untuk menggairahkan pasar. Insentif HEV yang mungkin diberikan juga harus menjadi katalis bagi ASII. HEMCE diperkirakan membukukan pendapatan yang lebih rendah pada 2024,” ungkap Christopher.

Rekomendasi dan Target Harga Saham 

Di sisi lain, penjualan alat berat merek Komatsu oleh PT United Tractors Tbk (UNTR), anak usaha ASII, turun 24% (yoy) menjadi 518 unit pada Januari 2024.

Sedangkan lini bisnis pertambangan batu bara mencatatkan peningkatan volume sebesar 9% (yoy). PT Tuah Turangga Agung (TTA), anak usaha UNTR, membukukan peningkatan volume produksi batu bara sebesar 28% (yoy), meski terjadi penurunan volume pada batu bara termal dan kokas.

“Kami sedikit merevisi asumsi untuk ASII, menyusul lemahnya penjualan mobil pada Januari 2024. Target harga saham ASII diturunkan menjadi Rp 6.050,” sebut Christopher.

Walaupun begitu, saham ASII tetap trading dengan valuasi yang murah sebesar 6,82 kali dan EV/EBITDA sebesar 5,65 kali. Ini membuka peluang investasi dengan valuasi yang didiskon.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia