Jelang Mudik, Saham Garuda (GIAA) Makin Mepet Gocap, AirAsia (CMPP) Terus Terperosok
JAKARTA, investor.id - Saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) anjlok 5,45% ke Rp 52 pada jeda siang perdagangan 1 April 2024, dan menjadi level terendahnya dalam 6 bulan terakhir.Sejumlah 79,12 juta saham GIAA ditransaksikan, frekuensi 972 kali, dan nilai transaksi Rp 4,14 miliar.
Sedangkan, saham PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) terjun 10% mentok auto rejection bawah (ARB) ke Rp 81, yang merupakan level terendahnya dalam 5 tahun terakhir.Sebanyak 471,40 ribu saham CMPP ditransaksikan, frekuensi 44 kali, dan nilai transaksi Rp 38,18 juta.
Saham Garuda dan AirAsia juga selalu ditutup memerah pada perdagangan 25, 26, 27, dan 28 Maret.
Sementara itu, saham Garuda Indonesia (GIAA) dan AirAsia Indonesia (CMPP) memerah bertepatan dengan dimulainya papan pemantauan khusus tahap II II (full periodic call auction) mulai Senin (25/3/2024) pekan lalu.
Saham GIAA dan CMPP sendiri masuk papan tersebut karena memenuhi kriteria 5, yakni memiliki ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.
Dalam keterangan resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) dijelaskan bahwa pada implementasi full periodic call auction, seluruh saham yang masuk dalam papan pemantauan khusus diperdagangkan secara periodic call auction yang terdiri dari 5 sesi periodic call auction dalam satu hari.
Mekanisme perdagangan untuk efek bersifat ekuitas yang ada di papan pemantauan khusus menggunakan periodic call auction. Pada mekanisme periodic call auction, order akan dikumpulkan selama order collecting phase hingga random closing phase, yang kemudian akan dilakukan matching pada order matching phase di akhir sesi.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik sempat menyampaikan bahwa papan pemantauan khusus dapat memberikan alternatif segmentasi papan pencatatan yang lebih sesuai dengan strategi investasi investor dan memberikan transparansi atas kondisi perusahaan.
“Papan pemantauan khusus juga diharapkan dapat meningkatkan transaksi dan likuiditas perdagangan khususnya saham dengan frekuensi perdagangan rendah dan di harga Rp 50 dengan mekanisme perdagangan khusus, serta meminimalisir pembentukan harga yang tidak wajar dan proses price discovery yang lebih sesuai untuk saham dengan likuiditas rendah,” sebutnya.
Jelang Mudik
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





