Jumat, 15 Mei 2026

Jelang Mudik, Saham Garuda (GIAA) Makin Mepet Gocap, AirAsia (CMPP) Terus Terperosok

Penulis : Thresa Sandra Desfika
1 Apr 2024 | 12:28 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi pesawat Garuda (GIAA). (Perseroan)
Ilustrasi pesawat Garuda (GIAA). (Perseroan)

JAKARTA, investor.id - Saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) anjlok 5,45% ke Rp 52 pada jeda siang perdagangan 1 April 2024, dan menjadi level terendahnya dalam 6 bulan terakhir.Sejumlah 79,12 juta saham GIAA ditransaksikan, frekuensi 972 kali, dan nilai transaksi Rp 4,14 miliar.

Sedangkan, saham PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) terjun 10% mentok auto rejection bawah (ARB) ke Rp 81, yang merupakan level terendahnya dalam 5 tahun terakhir.Sebanyak 471,40 ribu saham CMPP ditransaksikan, frekuensi 44 kali, dan nilai transaksi Rp 38,18 juta.

Saham Garuda dan AirAsia juga selalu ditutup memerah pada perdagangan 25, 26, 27, dan 28 Maret.

Sementara itu, saham Garuda Indonesia (GIAA) dan AirAsia Indonesia (CMPP) memerah bertepatan dengan dimulainya papan pemantauan khusus tahap II II (full periodic call auction) mulai Senin (25/3/2024) pekan lalu.

ADVERTISEMENT

Saham GIAA dan CMPP sendiri masuk papan tersebut karena memenuhi kriteria 5, yakni memiliki ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.

Dalam keterangan resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) dijelaskan bahwa pada implementasi full periodic call auction, seluruh saham yang masuk dalam papan pemantauan khusus diperdagangkan secara periodic call auction yang terdiri dari 5 sesi periodic call auction dalam satu hari. 

Mekanisme perdagangan untuk efek bersifat ekuitas yang ada di papan pemantauan khusus menggunakan periodic call auction. Pada mekanisme periodic call auction, order akan dikumpulkan selama order collecting phase hingga random closing phase, yang kemudian akan dilakukan matching pada order matching phase di akhir sesi.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik sempat menyampaikan bahwa papan pemantauan khusus dapat memberikan alternatif segmentasi papan pencatatan yang lebih sesuai dengan strategi investasi investor dan memberikan transparansi atas kondisi perusahaan.

“Papan pemantauan khusus juga diharapkan dapat meningkatkan transaksi dan likuiditas perdagangan khususnya saham dengan frekuensi perdagangan rendah dan di harga Rp 50 dengan mekanisme perdagangan khusus, serta meminimalisir pembentukan harga yang tidak wajar dan proses price discovery yang lebih sesuai untuk saham dengan likuiditas rendah,” sebutnya.

Jelang Mudik

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia