Dikoleksi BlackRock, Vanguard, hingga Lo Kheng Hong, Saham PGN (PGAS) Menarik?
JAKARTA, investor.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN tengah menghadapi tantangan berat. Penurunan alami dari pemasok memaksa PGN membeli gas dari pasar gas alam cair (LNG) untuk memenuhi permintaan gas domestik. Harga LNG US$ 10/mmbtu, lebih tinggi dibandingkan biaya pipa gas yang sebesar US$ 5,5-5,8/mmbtu.
“Karena itu, kami perkirakan laba PGN tahun 2024 berpotensi stagnan (yoy), jika volume distribusi gas melebihi 900 mmscfpd,” tulis RHB Sekuritas dalam risetnya.
Menurut RHB Sekuritas, PGN mengonfirmasi solusi LNG untuk menutup kekurangan pasokan. Perseroan mengakui keterbatasan pasokan tahun depan, karena penurunan alami. Pada kontrak bagi hasil (PSC) terbaru untuk Blok Koridor pada Desember 2023, PGN akan mendapatkan pasokan gas sebanyak 410 mmscfpd dari blok tersebut pada 2024. Kemudian, pasokan akan turun menjadi 129 mmscfpd pada 2028.
Untuk mencegah kekurangan pasokan, emiten berkode saham PGAS tersebut berupaya mengamankan pemasok LNG lokal, yaitu Bontang dan Donggi Senoro. Sementara itu, pelonggaran kemacetan pipa gas di Riau, Dumai, dan Jawa Tengah – yang dapat mengurangi penggunaan LNG – untuk memasok daerah Sumatra Selatan dan Jawa Barat diperkirakan selesai pada 2025, tergantung persetujuan Kementerian ESDM.
RHB Sekuritas merevisi perkiraan volume distribusi gas sebesar 8% menjadi 882 mmscfpd dan menambahkan pasokan 20 mmscfpd dari LNG. Menurut ESDM, gas untuk industri pada 2023 mencakup 40% dari permintaan gas nasional, atau 1,5 bcfpd dari total 3,7 bcfpd. Dari jumlah tersebut, 62% dipasok oleh PGAS.
Dengan asumsi permintaan gas nasional sebesar 1,4 bcfpd karena penurunan alami, PGAS berpotensi hanya mendistribusikan 882 mmscfpd atau 92% dari target 2024 yang sebesar 954 mmscfpd. “Kami memperkirakan 862 mmscfpd dapat diamankan dari pipa gas, dimana 410 mmscfpd dari Blok Koridor, serta 20 mmscfpd gas dari pasar LNG,” jelas RHB Sekuritas.
Adapun margin distribusi berpotensi turun menjadi US$ 1,8/mmbtu karena tambahan biaya LNG. Dengan asumsi 13,4% dari harga minyak Brent, RHB Sekuritas menggunakan harga gas LNG sebesar US$ 11,8/mmbtu pada 2024 (estimasi harga minyak US$ 88/bbl), menghasilkan total biaya LNG sebesar US$ 87 juta.
“Biaya LNG menyumbang 5% dari total biaya distribusi gas. Kami mempertahankan asumsi harga jual di US$ 7,6/mmbtu. Dan, dengan dampak LNG, rata-rata margin distribusi di US$ 1,8/mmbtu dari US$ 1,9/mmbtu,” sebut RHB Sekuritas.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
RHB Sekuritas merevisi rekomendasi saham PGAS menjadi netral dari buy. Target harga saham PGAS juga baru di Rp 1.400 dari sebelumnya Rp 1.440. “Berdasarkan nilai ESG sebesar 2,9 dibandingkan median negara yang sebesar 3, kami menerapkan 2% diskon ESG ke target harga baru saham PGAS,” pungkas perusahaan efek itu.
Jika RUPST PGAS pada 30 Mei menyetujui rasio pembayaran dividen sebesar 70%, maka dividend yield dapat mencapai 9%. Harga saham PGAS selama sebulan terakhir mengungguli IHSG yang sebesar 6%, dengan investor asing mencatatkan pembelian senilai Rp 504 miliar.
Baru-baru ini, investor kawakan Lo Kheng Hong diketahui masuk top 10 pemegang saham PGN (PGAS). Berdasarkan data per 30 April 2024, Lo Kheng Hong memiliki 149.978.100 (0,62%) saham PGAS dan menjadi pemegang saham nomor 8 terbesar.
Selain Lo Kheng Hong, terdapat pula nama perusahaan investasi global tersohor, seperti BlackRock dan Vanguard. BlackRock memegang sebanyak 166.127.400 (0,69%) saham PGAS. Sedangkan Vanguard mengantongi 408.672.800 (1,69%) saham PGAS.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






