PGN (PGAS) Masih Ada Tantangan, Hold Sahamnya
JAKARTA, investor.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN membukukan pendapatan US$ 949,3 juta pada kuartal I-2024 atau tumbuh 1,7% yoy, namun terkikis 0,7% qoq. Sedangkan laba bersih lebih baik dari perkiraan sebesar US$ 121,1 juta, meningkat 52,2% qoq atau naik 40,8% yoy.
“Efisiensi pada COGS (cost of goods sold) dan biaya keuangan menghasilkan laba bersih yang lebih baik dari perkiraan, tetapi pertumbuhan pendapatan tetap datar,” tulis Vera, analis MNC Sekuritas, dalam risetnya.
Pada kuartal I-2024, PGN mencatatkan margin distribusi sebesar US$ 2,46/mmbtu, naik 26,1% qoq atau meningkat 39,9% yoy. Volume distribusi gas sebanyak 858 bbtud, turun 7% qoq/12,1% yoy.
“Manajemen PGN (PGAS) menargetkan spread distribusi US$ 1,6-1,8/mmbtu dibandingkan US$ 1,95/mmbtu pada 2023. Sedangkan volume tahun ini diproyeksikan sebanyak 954 bbtud dibandingkan 2023 yang sebanyak 923 bbtud,” sebut Vera.
MNC Sekuritas menilai bahwa emiten berkode saham PGAS tersebut menunjukkan kinerja operasional yang stabil, namun prospek lemah. Masalah rantai pasokan juga mengekspos potensi risiko dalam memenuhi target distribusi dan mempertahankan kinerja di masa depan.
Selain itu, rentannya industri minyak dan gas terhadap konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina serta di Timur Tengah juga menjadi tantangan bagi PGAS.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Dengan berbagai faktor yang ada, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold untuk saham PGAS. Target harga saham PGAS sebesar Rp 1.550, yang menyiratkan estimasi EV/EBITDA 2024 sebesar 2,6 kali. Saat ini, saham PGAS diperdagangkan mendekati standar deviasi (std) -1,5 dari EV/EBITDA 5 tahunnya.
Di lain pihak, RHB Sekuritas merevisi rekomendasi saham PGAS menjadi netral dari buy. Target harga saham PGAS juga baru di Rp 1.400 dari sebelumnya Rp 1.440. “Berdasarkan nilai ESG sebesar 2,9 dibandingkan median negara yang sebesar 3, kami menerapkan 2% diskon ESG ke target harga baru saham PGAS,” tulis RHB Sekuritas dalam risetnya.
Menurut RHB Sekuritas, PGAS tengah menghadapi tantangan berat. Penurunan alami dari pemasok memaksa PGAS membeli gas dari pasar gas alam cair (LNG) untuk memenuhi permintaan gas domestik. Harga LNG US$ 10/mmbtu, lebih tinggi dibandingkan biaya pipa gas yang sebesar US$ 5,5-5,8/mmbtu.
“Karena itu, kami perkirakan laba PGAS tahun 2024 berpotensi stagnan (yoy), jika volume distribusi gas melebihi 900 mmscfpd,” jelas RHB Sekuritas.
Perusahaan efek tersebut menyebutkan bahwa PGAS mengonfirmasi solusi LNG untuk menutup kekurangan pasokan. Perseroan mengakui keterbatasan pasokan tahun depan, karena penurunan alami. Pada kontrak bagi hasil (PSC) terbaru untuk Blok Koridor pada Desember 2023, PGAS akan mendapatkan pasokan gas sebanyak 410 mmscfpd dari blok tersebut pada 2024. Kemudian, pasokan akan turun menjadi 129 mmscfpd pada 2028.
Untuk mencegah kekurangan pasokan, PGAS berupaya mengamankan pemasok LNG lokal, yaitu Bontang dan Donggi Senoro. Margin distribusi PGAS berpotensi turun menjadi US$ 1,8/mmbtu karena tambahan biaya LNG. Dengan asumsi 13,4% dari harga minyak Brent, RHB Sekuritas menggunakan harga gas LNG sebesar US$ 11,8/mmbtu pada 2024 (estimasi harga minyak US$ 88/bbl), menghasilkan total biaya LNG sebesar US$ 87 juta.
Baca Juga:
HMSP Mau Lewat, GGRM Minggir Dulu“Biaya LNG menyumbang 5% dari total biaya distribusi gas. Kami mempertahankan asumsi harga jual di US$ 7,6/mmbtu. Dan, dengan dampak LNG, rata-rata margin distribusi di US$ 1,8/mmbtu dari US$ 1,9/mmbtu,” pungkas RHB Sekuritas.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






