Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Melorot Setelah Rilis Data Inflasi AS

Penulis : Indah Handayani
12 Sep 2024 | 04:04 WIB
BAGIKAN
Emas batangan pada uang kertas US$ 100 dolar. (Foto: ANTARA/Shutterstock/pri)
Emas batangan pada uang kertas US$ 100 dolar. (Foto: ANTARA/Shutterstock/pri)

NEW YORK, investor.id - Harga emas melorot pada Rabu (11/9/2024). Setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) mendorong penguatan dolar dan imbal hasil obligasi. Hal ini membuat investor menurunkan ekspektasi besaran pemangkasan suku bunga The Fed pada minggu depan.

Dikutip dari CNBC internasional, harga emas spot turun 0,1% menjadi US$ 2.513,19 per ons. Sementara kontrak berjangka emas AS ditutup stabil di US$ 2.542,4 per ons.

Harga konsumen di AS naik sedikit pada Agustus, tetapi inflasi inti tetap bertahan. Kondisi ini dapat membuat The Fed ragu untuk memberikan pemangkasan suku bunga setengah poin pada minggu depan.

ADVERTISEMENT

Ahli strategi pasar senior di RJO Futures Bob Haberkorn menyatakan, inflasi masih ada. Konsumen masih merasakannya. Jika The Fed memangkas setengah poin, itu menunjukkan mereka menyerah. “Pemangkasan seperempat poin tampaknya menjadi pilihan yang hampir tak terhindarkan saat ini," tegasnya.

Berdasarkan alat CME FedWatch, saat ini pasar memperkirakan kemungkinan 87% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, dibandingkan dengan 71% sebelum data inflasi dirilis.

Dalam jajak pendapat Reuters menyebut mayoritas ekonom memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada masing-masing dari tiga pertemuan kebijakan yang tersisa pada 2024. Hanya 9 dari 101 ekonom yang memperkirakan pemangkasan setengah poin pada minggu depan.

Rekor Emas Tertahan

Trader logam independen yang berbasis di New York Tai Wong mengatakan, kenaikan inflasi telah memastikan pemangkasan 25 basis poin minggu depan. “Rekor tertinggi baru untuk harga emas mungkin harus tertahan sedikit lebih lama,” jelasnya.

Kini, pasar menunggu data indeks harga produsen AS dan klaim awal pengangguran yang akan dirilis pada Kamis (12/9/2024).

Sedangkan harga logam lainnya seperti perak spot naik 0,7% menjadi US$ 28,57 per ons, platinum melonjak 1,5% menjadi US$ 951,97, dan palladium melejit 5% menjadi US$ 1.013,25 per ons.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan, Moskow dapat mempertimbangkan untuk membatasi ekspor uranium, titanium, dan nikel sebagai pembalasan terhadap Barat.

“Harga palladium juga meningkat karena perubahan peraturan ekspor, terutama di Rusia,” papar Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.


 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia