Jumat, 15 Mei 2026

Wall Street Melesat Ditopang Kebangkitan Saham Teknologi

Penulis : Indah Handayani
12 Sep 2024 | 04:41 WIB
BAGIKAN
Foto ilustrasi: Para pialang  sedang bekerja di Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat (Reuters/ANTARA)
Foto ilustrasi: Para pialang sedang bekerja di Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat (Reuters/ANTARA)

NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street melesat pada Rabu (11/9/2024). Hal itu ditopang kebangkitan saham teknologi di tengah perdagangan yang bergejolak. Saat investor menimbang dampak data inflasi terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap kebijakan The Fed.

Dikutip dari CNBC internasional, S&P 500 melejit 1,07% dan ditutup pada 5.554,13. Perdagangan pada Rabu menandai pertama kalinya sejak Oktober 2022 indeks pasar yang luas ini turun 1% secara intraday, tetapi kemudian berakhir lebih dari 1% lebih tinggi.

Dow Jones yang terdiri dari 30 saham juga bertambah 124,75 poin (0,31%) ditutup di 40.861,71 setelah sempat kehilangan sebanyak 743,89 poin di posisi terendah pada sesi perdagangan Rabu. Sementara itu, Nasdaq Composite melonjak 2,17%, menghapus kerugian sebelumnya dan ditutup pada 17.395,53.

ADVERTISEMENT

Investor membeli kembali saham teknologi besar dan semikonduktor pada perdagangan sore, mendorong Nasdaq naik. Saham Nvidia melonjak 8% dan AMD naik hampir 5%. ETF Semikonduktor VanEck (SMH) juga naik sekitar 5%.

Saham-saham bank, termasuk JPMorgan Chase dan Goldman Sachs, juga pulih dari posisi terendah sebelumnya dan berakhir dengan kenaikan tipis.

Pada awal perdagangan, Wall Street sempat jatuh setelah laporan indeks harga konsumen (CPI) inti, yang tidak termasuk kategori makanan dan energi yang volatil, menunjukkan kenaikan sedikit lebih tinggi dari perkiraan. Hal itu meredam harapan investor akan pemangkasan suku bunga The Fed sebesar setengah poin.

Besaran Pemangkasan

Kini, traders memperkirakan kemungkinan 85% bahwa bank sentral akan menyetujui pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17-18 September, menurut alat FedWatch CME Group. Meski demikian, CPI keseluruhan mencapai level terendah tahunan sejak Februari 2021.

Kepala strategi di Interactive Brokers Steve Sosnick menyebut, jika dilihat secara keseluruhan, data CPI tidak terlalu buruk. Namun, yang tidak diharapkan pasar adalah pembacaan CPI inti yang lebih tinggi dari perkiraan. “Itu seperti disiram air dingin bagi pasar yang sebelumnya berharap ada peluang pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin. Harapan itu hampir menguap," jelasnya.

Data terbaru ini muncul saat investor menghadapi hambatan musiman. Bulan September telah menjadi bulan terburuk bagi S&P 500 selama 10 tahun terakhir, dengan rata-rata kerugian lebih dari 1%. Indeks pasar yang luas ini juga mencatat kerugian pada September dalam empat tahun terakhir.

Sementara itu, indeks Volatilitas CBOE sempat diperdagangkan di atas 20 sebelum akhirnya turun kembali ke angka 18.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia