Jumat, 15 Mei 2026

Demi Nasabah, Adira Finance (ADMF) Rela Laba Turun

Penulis : Prisma Ardianto
31 Okt 2024 | 18:20 WIB
BAGIKAN
(kanan-kiri) Direktur Utama Adira Finance (ADMF) Dewa Made Susila dan Direktur Keuangan Adira Finance (ADMF) Sylvanus Gani Mendrofa di Jakarta, pada Kamis (31/10/2024). (Investor Daily/Prisma Ardianto)
(kanan-kiri) Direktur Utama Adira Finance (ADMF) Dewa Made Susila dan Direktur Keuangan Adira Finance (ADMF) Sylvanus Gani Mendrofa di Jakarta, pada Kamis (31/10/2024). (Investor Daily/Prisma Ardianto)

JAKARTA, investor.id – PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) atau Adira Finance melaporkan penurunan laba bersih sebesar 17% sampai dengan kuartal III-2024. Hasil ini diraup perusahaan usai memutuskan tak mentransmisikan penaikan biaya kredit dan beban bunga kepada nasabah.

“Mohon maaf (laba) Adira gak selalu bagus. Kalau Adira mau (laba) bagus, nanti nasabahnya bonyok karena kita naikin lending rate. Jadi, (laba turun) gak apa-apa, ini business cycle yang wajar,” ungkap Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila di Jakarta, pada Kamis (31/10/2024).

Berdasarkan laporan keuangan Adira Finance, laba bersih perusahaan turun 17,00% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2024. Sebagai perbandingan, laba bersih menyusut dari Rp 1,34 triliun menjadi Rp 1,11 triliun. Adapun salah satu penyebabnya adalah peningkatan beban bunga sebesar 34,94% (yoy).

ADVERTISEMENT

Made menjelaskan, perusahaan lebih banyak melayani segmen nasabah menengah-bawah yang saat ini sedang menghadapi gangguan daya beli dan daya bayar. Siklus perekonomian yang kurang mendukung, ditambah situasi tahun politik yang tak menentu jadi tantangan tersendiri bagi kebanyakan nasabah dan Adira Finance itu sendiri.

Pertama-tama, kata dia, perusahaan memilih berupaya tak mengerek suku bunga ke nasabah, seiring era suku bunga tinggi belakangan ini. Kemudian, ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung membuat perusahaan harus melakukan pencadangan lebih besar sebagai tindakan kehati-hatian. Pada saat sama, perusahaan juga melakukan hapus buku (write off) untuk beberapa portofolio pembiayaan.

“Kalau ekonomi lagi jelek, pencadangan kita naik, itu ada aturannya lah. (Lalu) write off kita naik, jelas, banyak orang tidak mampu (bayar angsuran). Jadi apakah ini selamanya? Enggak, ini kondisi demand dan supply. Ini memang kondisi sedang challenging,” beber Made.

“Kita terima memang situasinya tidak kondusif tahun ini,” kata Made. Ia bilang, tekanan penjualan di industri otomotif ikut berimbas terhadap perusahaan yang 80% portofolionya pembiayaan kendaraan bermotor.

Made mengaku bahwa tahun ini perusahaan rela melewati fase memupuk profitabilitas yang lebih besar. Tapi, perusahaan juga tak berdiam diri menunggu perekonomian kembali membaik. Dalam hal ini, Adira Finance tengah menyiapkan strategi untuk bisa berlari kencang di masa mendatang.

Mesin Pertumbuhan Baru

Pada kesempatan sama, Direktur Keuangan Adira Finance, Sylvanus Gani Mendrofa menerangkan, pada tahun yang menantang ini perusahaan cukup selektif untuk menyalurkan pembiayaan. Hasilnya, pembiayaan baru turun 9% (yoy) menjadi Rp 27,8 triliun sampai kuartal III-2024.

Meski begitu, piutang pembiayaan (termasuk pembiayaan bersama) masih mampu bertumbuh sebesar 7% (yoy) menjadi Rp 56,6 triliun. Didukung pembiayaan syariah baru syariah yang melesat 21% (yoy) menjadi Rp 5,9 triliun dan pertumbuhan pembiayaan baru di segmen non otomotif menjadi Rp 6,8 triliun.

“Dengan piutang yang naik 7% tentu pendapatan kita naik (8,9% yoy), tetapi tekanan-tekanan ekonomi makro memberi dampak. Seperti orang mantab (makan tabungan), harga komoditas terganggu, itu menyebabkan misalkan di daerah Sumatera biaya kredit meningkat 38% dan biaya dana meningkat karena suku bunga meningkat,” urai Gani.

Di samping itu, kehati-hatian yang diterapkan perusahaan menghasilkan kualitas aset tetap terjaga di rentang memadai. Pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) termoderasi di level 2,2% pada akhir September 2024.

Gani yakin terhadap prospek ekonomi yang bakal lebih baik di sisa tahun ini dan tahun 2025 mendatang. Pembiayaan baru dipercaya meningkat dari Rp 2,5 triliun per bulan menjadi Rp 3 triliun per bulan sepanjang kuartal IV-2024. Kemudian, ekuitas Adira Finance juga dalam posisi kuat Rp 11,23 triliun untuk mendukung ekspansi usaha ke depan, termasuk prospek bisnis usai menaruh kepemilikan saham di Home Credit dan Mandala Finance (MFIN).

“Mungkin tidak hanya dilihat dari finansial saja, tapi bagaimana future expansion yang kita lakukan,” jelas Gani.

Di samping kinerja keuangan yang tertekan, emiten multifinance bersandi ADMF ini tetap melancarkan perluasan jaringan di seluruh Indonesia, khususnya di luar Pulau Jawa. Gani menjelaskan, wilayah perluasan yang dimaksud seperti Bungku, Lhokseumawe, Flores, dan beberapa daerah lainnya.

ADMF juga memastikan semakin banyak nasabah yang menggunakan layanan digital Adiraku sebagai sarana pembayaran. Jumlah pengguna naik dari 1,0 juta pada tahun lalu menjadi 1,1 juta pengguna. Dalam waktu dekat, perusahaan akan meluncurkan layanan digital terbaru.

“Kita juga ada barang digital (baru) yang nanti November 2024 akan kita undang lagi teman-teman dari media ... Adira sudah bersiap dan menyongsong bisnis baru,” jelas Gani.

Saat ini, Adira Finance juga tengah mempersiapkan mesin pertumbuhan baru, menyusul kesuksesan di segmen pembiayaan motor, mobil, dan cash loan. Segmen yang dimaksud adalah pembiayaan alat berat.

Perusahaan berharap langkah ini akan mampu membuat portofolio perusahaan semakin tangguh dalam situasi menantang sekalipun. Pembiayaan alat berat diungkapkan sudah tumbuh dua kali lipat dengan nominal sekitar Rp 800 miliar. Pertumbuhan dipercaya dapat berlari cepat dengan dukungan afiliasi MUFG dan Bank Danamon (BDMN).

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia