Jumat, 15 Mei 2026

Saham Teknologi Sepi Peminat?

Penulis : Rama Sukarta
13 Nov 2024 | 12:56 WIB
BAGIKAN
Investor memantau pergerakan saham di sekuritas, Jakarta. (IIlustrasi: Investor Daily/David Gita Roza)
Investor memantau pergerakan saham di sekuritas, Jakarta. (IIlustrasi: Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat 29 perusahaan yang masuk ke dalam pipeline pencatatan saham di BEI per 8 November 2024.

Mayoritas di antaranya berasal dari sektor konsumer non-cyclical dan sektor energi dengan masing-masing terdapat sebanyak lima perusahaan. Sementara sektor teknologi menjadi satu-satunya sektor dengan nol perusahaan yang tercatat dalam pipeline.

Menanggapi nihilnya perusahaan teknologi yang masuk dalam pipeline, Direktur BEI I Nyoman Yetna mengatakan bahwa minat perusahaan untuk melantai di BEI dipengaruhi oleh dinamika bisnis sektoral.

ADVERTISEMENT

"Terkait dengan ada atau tidak industri tertentu, itu pertama tentu dari sisi willingness para entrepreneur, apakah merasa sekarang udah waktunya (untuk IPO). Karena itu kami belum terima saat ini dari sektor teknologi," kata Nyoman ketika ditemui di BEI Jakarta, Selasa (12/11/2024).

Sinyal Market

Lebih lanjut, Nyoman menjelaskan bahwa saat ini situasi pasar bergerak dengan tren yang juga berputar. Sebelumnya, sektor teknologi dianggap sebagai sektor yang emerge. Namun saat ini minat investor untuk berinvestasi pada saham sektor teknologi telah berkurang.

"Kalau masalah appetite, itu kan (berdasarkan) investor. Kalau masuk ke daftar pipeline, itu kan masalah perusahaan. Dunia bergerak. Beberapa waktu lalu tingkat suku bunga masih tinggi, sehingga investor lebih nyaman berinvestasi ke instrumen yang return-nya tinggi. Sekarang semua berubah. Sekarang tingkat suku bunga acuan sudah di-adjust. Harusnya start up akan muncul lagi, emerge lagi. Masalah kapan entrepreneur mau masuk, mereka yang menentukan. Tapi berdasarkan sinyal market, perusahaan-perusahaan start up akan tumbuh lagi," tambah Nyoman.

Terakhir, Nyoman berpesan kepada para investor untuk dapat mencermati saham-saham sebelum berinvestasi. Nyoman mengatakan, investor harus rasional dalam menilai perusahaan.

"Yang saya ingin tekankan, kepada teman-teman investor untuk lebih rasional melihatnya. Jangan dipengaruhi oleh euphoria. Dalam hal sebelumnya, misalnya terjadi dari sisi euphoria di luar, euphoria di sini, ujung-ujungnya adalah balik lagi ke fundamental dari perusahaan dan potensi growth ke depan, itu dilakukan secara rasional," pungkas Nyoman.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 23 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 27 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia