Kamis, 14 Mei 2026

Spin Off BTN Syariah Mendesak, Akuisisi Jadi Cara Terbaik

Penulis : Jauhari Mahardhika
5 Des 2024 | 15:21 WIB
BAGIKAN
Kantor pusat PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN.
Kantor pusat PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN.

JAKARTA, investor.id – Pertumbuhan kinerja unit usaha syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN tergolong impresif pada kuartal III-2024. Hal itu kembali memunculkan ekspektasi publik terhadap rencana pemisahan usaha (spin off) unit usaha syariah.

Manajemen BTN diminta untuk mempercepat spin off unit usaha syariah atau BTN Syariah tersebut demi kemajuan industri perbankan syariah. BTN Syariah diharapkan menjadi penyeimbang PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI, sehingga kompetisi menjadi lebih sehat dan masyarakat memiliki lebih banyak opsi.

“Dan, paling penting, spin off UUS BTN merupakan amanat UU yang implementasinya memiliki tenggat waktu yang ketat. Prinsipnya, semakin cepat terwujud bakal makin baik mengingat potensi pasar industri keuangan syariah yang tumbuh pesat,” jelas Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, Sutan Emir Hidayat dalam keterangannya.

ADVERTISEMENT

Menurut dia, terdapat beberapa faktor mengapa spin off BTN Syariah mesti dipercepat. Pertama, dari sisi rugulasi, spin off sudah memungkinkan karena total aset BTN Syariah lebih dari Rp 50 triliun. Bahkan nilainya sudah mencapai Rp 58 triliun hingga kuartal III-2024.

“Ada dua unit usaha syariah yang telah memenuhi aset lebih dari Rp 50 triliun, yaitu CIMB Syariah dan BTN Syariah. Dengan demikian, secara regulasi sudah harus dilakukan spin off,” ungkap dia.

Faktor kedua, spin off akan menambah kekuatan BTN dalam mendukung program pembangunan 3 juta rumah yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Terlebih, minat masyarakat terhadap KPR syariah makin tinggi. Jika BTN Syariah beroperasi sebagai bank umum syariah (BUS), perseroan punya lebih banyak peluang untuk meningkatkan fungsi intermediasi, termasuk mencari sumber pendanaan alternatif.

“Di sisi lain akan ada penerapan kebijakan loan to value (LTV) KPR perumahan hingga 100% atau pembeli rumah tanpa dipungut uang muka. Maka, BTN Syariah menjadi BUS sangat dibutuhkan,” tutur Sutan.

Faktor lainnya, menurut dia, spin off dapat mempercepat pertumbuhan BTN selaku induk. Dengan spin off, emiten berkode saham BBTN tersebut dapat menciptakan unlock value BTN Syariah, sehingga memperbesar aset dan kinerja keuangan BBTN ke depan.

Sebagai contoh, pertumbuhan BSI (BRIS) begitu pesat setelah merger BRI Syariah, BNI Syariah, dan Mandiri Syariah menjadi BUS. Pertumbuhan tersebut akhirnya berdampak positif kepada induknya.

Akuisisi Unit Usaha Syariah Bank Lain 

Selain itu, tren pertumbuhan keuangan syariah Indonesia masih sangat menjanjikan. Momentum ini dapat dimanfaatkan dengan menjadikan BTN Syariah menjadi BUS. “Dengan menjadikan BTN Syariah menjadi BUS, rencana pemerintah untuk memperkuat ekosistem industri halal di Indonesia akan lebih cepat berkat adanya bank syariah baru,” ucapnya.

Meski demikian, spin off BTN Syariah diharapkan terjadi dengan mengakuisisi unit usaha syariah bank lain. Alhasil, BTN Syariah bisa menjadi bank besar atau setidaknya masuk dalam segmen bank kinerja bank berdasarkan modal inti (KBMI) 3. “Agar bisa bersaing dengan bank syariah lainnya,” ujar Sutan.

Pada kuartal III-2024, BTN Syariah berhasil mencatatkan kenaikan laba sebesar 33,6% secara tahunan atau year on year (yoy). Laba bersih meningkat menjadi Rp 535 miliar pada sembilan bulan tahun 2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 401 miliar.

Kenaikan laba bersih BTN Syariah ditopang kinerja intermediasi. Penyaluran pembiayaan BTN Syariah sebesar Rp 42,7 triliun, naik 19,3% yoy dibandingkan Rp 35,7 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

BTN Syariah juga berhasil mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 31,5% yoy. DPK menjadi Rp47,6 triliun per September 2024. Dari segi permodalan, aset BTN Syariah mencapai Rp 57,7 triliun per kuartal III-2024, tumbuh 19,2% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 48,4 triliun.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 42 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 51 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia