Jumat, 15 Mei 2026

Rupiah Jeblok Tembus Rp 16 Ribu Gara-gara Ini

Penulis : Indah Handayani
13 Des 2024 | 15:31 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

JAKARTA, investor.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup jemblok hingga tembus Rp 16.000 pada perdagangan Jumat sore (13/12/2024). Hal itu karena pasar dilanda keraguan besar soal rencana jangka panjang suku bunga The Fed.

Mata uang rupiah ditutup melemah 64 point (0,4%) berada di level Rp 16.008 per dolar AS. Nilai tukar rupiah sempat ditutup melemah 25 poin (0,1%) di level Rp 15.944 pada Kamis (12/12/2024). Sedangkan indeks dolar terlihat naik 0,06 poin menjadi 107,06.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada perdagangan menjelang akhir pekan ini, mata uang rupiah sempat jatuh ke titik terendah karena melemah 70 point, sebelum akhirnya ditutup di level Rp.16.008. “Sedangkan untuk Senin depan (16/12/2024), mata uang rupiah fluktuatif. Namun, ditutup melemah direntang Rp. 15.090 – Rp.16.070,” ungkap Ibrahim, Jumat (13/12/2024).

ADVERTISEMENT

Ibrahim menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi karena bank sentral secara luas diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Namun, disisi lain, pasar menjadi semakin tidak yakin atas rencana jangka panjangnya untuk suku bunga. “Hal itu karena data minggu ini menunjukkan inflasi AS tetap tinggi,” tambah Ibrahim.

Menurut Ibrahim, The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga dengan kecepatan yang lebih lambat pada 2025 setelah memangkas suku bunga sebesar 75 bps sejauh ini pada 2024. Kebijakan ekspansif dan inflasi di bawah Presiden terpilih ASDonald Trump juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka panjang. Selain Fed, keputusan suku bunga di Jepang dan Inggris juga akan menjadi fokus minggu depan.

Selain itu, lanjutnya, Investor kecewa dengan serangkaian langkah stimulus agresif setelah pembaruan dari Konferensi Kerja Ekonomi Pusat (CEWC) China, pertemuan dua hari yang berakhir pada Kamis (12/12/2024). Sebuah pernyataan media pemerintah menunjukkan bahwa China telah berjanji untuk meningkatkan defisit anggarannya, meningkatkan penerbitan utang, dan melonggarkan kebijakan moneter untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah ketegangan perdagangan yang diantisipasi dengan AS.

Deflasi China

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 38 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 42 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 3 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia