Jumat, 15 Mei 2026

Harga Minyak Ambles ke Titik Terendah dalam Seminggu, Mengapa?

Penulis : Indah Handayani
18 Des 2024 | 04:20 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi harga minyak. (Foto: Pixabay)
Ilustrasi harga minyak. (Foto: Pixabay)

NEW YORK, investor.id - Harga minyak ambles hingga 1% pada Selasa (17/12/2024), mencapai titik terendah dalam seminggu. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap permintaan setelah keluarnya data ekonomi negatif dari Jerman dan China. Selain itu, para investor juga tetap berhati-hati menjelang keputusan The Fed terkait suku bunga.

Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent turun 72 sen (1%) menjadi US$ 73,19 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 63 sen (0,9%) menjadi US$ 70,08 per barel. Penutupan ini merupakan yang terendah untuk Brent sejak 10 Desember lalu, dan mengurangi selisih harga Brent terhadap WTI menjadi US$ 3,54 per barel, yang merupakan tingkat terendah dalam 12 minggu terakhir berdasarkan kontrak Februari.

Para analis menyatakan bahwa ketika selisih harga Brent terhadap WTI turun di bawah US$ 4 per barel, maka kurang ekonomis bagi perusahaan energi untuk mengirim kapal guna mengambil minyak mentah Amerika Serikat (AS). Hal ini berpotensi mengurangi ekspor minyak AS.

ADVERTISEMENT

Di China, negara dengan perekonomian terbesar kedua dunia, pertumbuhan output industri sedikit meningkat pada November, namun penjualan ritel mengalami kekecewaan. Hal ini memperburuk ekspektasi akan perlunya stimulus tambahan dari Beijing untuk mendongkrak konsumsi, di tengah ancaman tarif perdagangan AS yang lebih tinggi setelah Donald Trump terpilih kembali sebagai Presiden AS.

Sementara itu, di Jerman, sentimen bisnis memburuk lebih dari yang diperkirakan pada Desember, menurut survei yang dilakukan oleh Institut Ifo. Penurunan ini dipengaruhi oleh penilaian pesimis perusahaan terhadap prospek beberapa bulan ke depan, di tengah ketidakpastian geopolitik dan penurunan industri di ekonomi terbesar Eropa.

Di sisi lain, ekonomi AS menunjukkan ketahanan dengan laporan penjualan ritel yang meningkat lebih dari yang diperkirakan pada November, didorong oleh peningkatan pembelian kendaraan bermotor dan belanja online. Namun, laporan ini tidak mempengaruhi ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada Rabu (18/12/2024), untuk ketiga kalinya sejak bank sentral AS memulai siklus pelonggaran kebijakan moneter pada September lalu.

Proyeksi Kebijakan The Fed

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 43 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia