Harga Bitcoin Terus Melaju Jelang Keputusan Moneter The Fed
JAKARTA, investor.id - Pasar kripto terkoreksi dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin menguat menjelang keputusan moneter The Fed.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Rabu (18/12/2024) pukul 06.20 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 1,11% menjadi US$ 3,69 triliun dalam 24 jam. Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) naik 0,34% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga Bitcoin di level US$ 106.028 per koin atau setara Rp 1,7 miliar (kurs, Rp 16.075).
Pelemahan juga terjadi pada Ethereum (ETH) sebesar 3,37% menjadi US$ 3.864 per koin. Binance (BNB) juga turun 0,11% menjadi US$ 719 per koin.
Dikutip dari CoinDesk, meskipun Bitcoin (BTC) terus mencetak rekor harga tertinggi, data pasar opsi terbaru menunjukkan bahwa para trader tidak lagi mengejar tren naik dengan antusiasme yang sama seperti sebelumnya.
Pada Senin lalu, harga BTC naik di atas US$ 107 ribu, melampaui puncak sebelumnya pada 5 Desember, dan membawa keuntungan kumulatif setelah pemilu AS lebih dari 50%, menurut data CoinDesk. Kenaikan harga ini mengikuti jaminan Presiden terpilih Donald Trump bahwa AS akan membangun cadangan strategis Bitcoin serupa dengan cadangan minyak strategis negara tersebut.
Analis memperkirakan tren kenaikan ini akan berlanjut hingga tahun depan, dengan harga diperkirakan berada di kisaran US$ 150 ribu – 200 ribu pada akhir tahun depan.
Harga Opsi
Namun, harga opsi yang diperdagangkan di Deribit saat ini menunjukkan bahwa para trader tidak mengejar rally ini dengan semangat yang sama seperti sebelumnya, menandakan pandangan yang lebih hati-hati dalam jangka pendek.
Pada saat penulisan, 25-delta risk reversal untuk opsi yang kedaluwarsa pada hari Jumat menunjukkan angka negatif, menandakan kecenderungan lebih tinggi pada opsi put yang memberikan perlindungan terhadap penurunan harga. Opsi put yang kedaluwarsa pada 27 Desember diperdagangkan dengan sedikit premi dibandingkan dengan opsi call, sementara risk reversal yang diperpanjang hingga akhir Maret menunjukkan bias call yang lebih rendah, kurang dari tiga titik volatilitas.
Hal ini sangat kontras dengan tren yang terlihat dalam beberapa minggu terakhir, di mana para trader agresif mengejar puncak harga baru, mendorong bias call jangka pendek dan jangka panjang lebih dari empat atau lima titik volatilitas. Bahkan, risk reversal jangka pendek sering menunjukkan bias call yang lebih kuat dibandingkan dengan opsi jangka panjang.
Perdagangan blok terbaru yang tercatat di Deribit, yang dilacak oleh Amberdata, juga menunjukkan kecenderungan bearish. Perdagangan terbesar sejauh ini adalah posisi short pada opsi call dengan strike US$ 108 ribu yang kedaluwarsa pada 27 Desember, diikuti dengan posisi long pada opsi put dengan strike US$100 ribu yang kedaluwarsa pada 27 Desember dan 3 Januari.
Sentimen hati-hati ini mungkin dipengaruhi oleh kekhawatiran bahwa pada Rabu nanti, The Fed akan memberikan sinyal terkait pemangkasan suku bunga yang lebih sedikit atau lebih lambat di 2025, meskipun diperkirakan akan ada pemangkasan 25 basis points yang sudah diantisipasi.
Hasil tersebut dapat mempercepat penguatan imbal hasil obligasi, memperkuat dolar AS, dan menurunkan daya tarik investasi pada aset berisiko. Mungkin, trader BTC yang lebih cerdas sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan koreksi pasar.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






