Jumat, 15 Mei 2026

Sinyal Agresif The Fed Picu Kekhawatiran Harga Emas

Penulis : Grace El Dora
20 Des 2024 | 01:05 WIB
BAGIKAN
Tampilkan tumpukan emas batangan dari dekat. (Foto: Vector Photo Gallery/ Istock/ Getty Images)
Tampilkan tumpukan emas batangan dari dekat. (Foto: Vector Photo Gallery/ Istock/ Getty Images)

WASHINGTON, investor.id – The Federal Reserve (The Fed) mengguncang pasar dengan serangkaian proyeksi agresif yang tak terduga untuk arah suku bunga tahun depan. Sinyal agresif The Fed picu kekhawatiran harga emas sehingga membuat harga emas terpukul.

Tetapi analis mengatakan mereka masih melihat dukungan yang kuat untuk logam mulia pada 2025, seperti dikutip CNBC internasional pada Kamis (19/12/2024).

Dot plot The Fed, pengukur prospek pembuat kebijakan, sekarang menunjukkan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali pada 2025.

ADVERTISEMENT

Rencana ini dibandingkan dengan empat pemangkasan seperempat poin atau 25 basis poin (bps) yang sebelumnya diharapkan pada September 2024. Saat itu, ketika kekhawatiran tentang melemahnya pasar tenaga kerja menjadi perhatian utama.

Namun, sekarang kekhawatiran besar bagi bank sentral Amerika Serikat (AS) itu adalah apakah kebijakan presiden terpilih Donald Trump akan terbukti inflasif, khususnya terkait ancamannya untuk mengenakan tarif perdagangan yang besar untuk beberapa negara.

Dolar AS melonjak menyusul berita The Fed pada Rabu (Kamis pagi WIB). Indeks dolar mencapai titik tertinggi dalam dua tahun, karena potensi suku bunga yang lebih tinggi terlihat dapat meningkatkan mata uang tersebut.

Harga emas anjlok 2% ke level terendah dalam sebulan, setelah mengalami kenaikan yang menakjubkan dan mencapai rekor tertinggi tahun ini.

Emas secara luas didenominasi dalam dolar AS. Greenback yang lebih kuat membebani harga logam mulia tersebut. Suku bunga yang lebih tinggi dan imbal hasil (yield) Treasury AS yang lebih tinggi juga secara tradisional meningkatkan persaingan untuk aset safe haven, sehingga mengurangi permintaan emas.

Namun hubungan ini "putus-nyambung" selama beberapa tahun terakhir, karena faktor-faktor yang lebih luas seperti permintaan emas dari bank sentral khususnya dari China. Faktor ini lebih besar daripada pergerakan dolar AS dan obligasi pemerintah AS alias US Treasury, menurut ekonom komoditas di Capital Economics Hamad Hussein.

"Proposal tarif Trump dan Fed yang lebih agresif memang menambah risiko penurunan harga emas. Jika semuanya sama, itu akan menyebabkan harga emas yang lebih rendah. Namun, kami memperkirakan faktor-faktor nontradisional akan lebih kuat tahun depan,” ucapnya seperti dikutip CNBC internasional, Kamis (19/12/2024).

Menurut Hussein, China memainkan peran terbesar dalam hal itu. Bank sentral ekonomi terbesar kedua di dunia telah melanjutkan pembelian emas, sementara prospek ekonomi makro yang lemah mendorong permintaan safe haven di antara investor lokal. Terutama, saat perang dagang AS dengan China berpotensi meningkat.

Secara keseluruhan, sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022, bank sentral dari Polandia hingga India juga semakin menyukai pembelian emas, tambahnya.

“Akibatnya, harga emas kemungkinan akan tetap mendekati rekor tertingginya selama tahun mendatang,” lanjut Hussein.

Persaingan Kripto

Janet Mui selaku kepala analisis pasar RBC Brewin Dolphin juga mengatakan harga emas akan terus mendapat dukungan pada 2025.

“Pada margin, Fed yang lebih agresif, dolar AS yang lebih kuat, dan imbal hasil riil yang lebih tinggi berdampak negatif jangka pendek untuk emas. Hal ini khususnya berlaku setelah kenaikan harga emas yang kuat tahun ini dan meningkatnya daya tarik kripto sebagai penyimpan nilai digital. Meskipun demikian, kami pikir beberapa dukungan struktural dan siklus untuk emas akan tetap relevan. Ini termasuk keinginan bank sentral pasar berkembang untuk meningkatkan emas sebagai persentase cadangan dan tempat dalam portofolio sebagai lindung nilai terhadap berbagai risiko makro. Kami tetap memiliki bobot lebih pada emas sebagai diversifikasi terhadap aset risiko posisi bobot lebih kami,” terang Janet Mui, kepala analis pasar RBC Brewin Dolphin.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia